
Rembang – Sekolah-sekolah di Kabupaten Rembang belum punya solusi, untuk mengatasi masih banyaknya sisa nasi, sayur maupun lauk pauk menu makan bergizi gratis (MBG).
Solusi yang sering dijalankan adalah bapak/ibu guru membawa pulang sisa MBG, untuk pakan ternak ayam dan bebek.
Ahmad, seorang guru di Kecamatan Lasem mengatakan memberikan sisa menu MBG untuk pakan ternak ayam merupakan pilihan terakhir, daripada mubadzir.
“Kalau menu MBG masih utuh, nggak dimakan sama sekali, baru bisa diberikan kepada warga lain di luar sekolah,” terangnya, Rabu 26 Agustus 2026.
Ahmad mengakui tidak bisa memaksa siswa untuk menghabiskan menu MBG.
“Kalau awal-awal ya masih bisa terkontrol mas, tapi setelah itu ya sulit. Fifty-fifty, ada yang dimakan, ada yang dibawa pulang, ada yang nggak. Kalau buah-buahan dan susu, sering habis,” imbuhnya.
Sekolah tetap menerima MBG, karena sungkan kalau menolak program pemerintah. Meski demikian mereka tetap berharap pemerintah mengevaluasi program MBG dan digantikan program lain yang lebih tepat sasaran.
“Daripada buang-buang anggaran, tapi manfaatnya di tingkat bawah, jauh dari harapan, kenapa nggak beralih ke program lain saja,” timpal Ahmad.
Hal senada diungkapkan seorang kepala SD Negeri di Kecamatan Sumber yang kami rahasiakan identitasnya.
Ia menyebut sisa menu MBG, biasanya diamankan oleh penjaga sekolah (tukang kebun) untuk pakan ayam di rumah.
“Jumlahnya lumayan banyak mas, ya pak penjaga yang sering mengumpulkan, buat pakan ayam. Kita prihatin juga,” ujarnya.
Menurutnya jangankan nasi, lauk berupa ikan laut atau ayam potong saja, masih banyak siswa menolak. Ketika menghadapi situasi semacam itu, pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa.
“Kalau siswa dipaksa menghabiskan ya nggak mungkin pak. Apabila siswanya sudah nggak suka, masak kita paksa,” ucapnya.
Ia menambahkan sekolah hanya satuan pelaksana di tingkat bawah, untuk sekadar menjalankan program prioritas Presiden. Soal masih banyak sisa MBG, pihak sekolah tak mau ambil pusing.
Tahun 2026, pemerintah menetapkan anggaran MBG sebesar Rp 268 Triliun. Sedangkan di tahun 2027, angkanya turun menjadi Rp 240,2 Triliun.
Lembaga Celios menghitung angka potensi kerugian akibat MBG yang terbuang se-Indonesia, mencapai Rp 1,75 Triliun setiap Minggu. (Musyafa Musa).

