
Lasem – Di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, ada sebuah klenteng unik. Di dalam klenteng, terdapat patung kong co tokoh Jawa yang menjadi pembeda, dengan klenteng-klenteng lain pada umumnya.
Hal ini kerap menyedot perhatian pengunjung.
Nama klentengnya Gie Yong Bio di Desa Bagan, Kecamatan Lasem.
Jika klenteng-klenteng lain biasanya didominasi patung kong co dewa dewi dan leluhur warga Tionghoa, tidak demikian halnya di Klenteng Gie Yong Bio.
Tepatnya di sebelah timur klenteng, terdapat patung kong co Raden Panji Margono.
Raden Panji Margono adalah putra Tejakusuma V, Adipati Lasem yang memimpin pada tahun 1714 – 1727.
Raden Panji Margono bersahabat dengan Oei Ing Kiat, seorang saudagar kaya keturunan Tionghoa dan Tan Kee Wie, pendekar Kungfu sekaligus pengusaha di Lasem.
Ketika ayahnya selesai menjadi Adipati, Raden Panji Margono seharusnya yang melanjutkan. Namun tampuk kepemimpinan justru diserahkan kepada sahabatnya, Oei Ing Kiat.
Oei Ing Kiat bergelar Raden Ngabehi Widyaningrat, memimpin Lasem 1727 – 1743.
Ketiga sahabat yang menjadi saudara angkat ini, berjuang melawan penjajah VOC Belanda.
Ketiganya gugur melawan penjajah. Oei Ing Kiat gugur di Layur Desa Gedongmulyo tahun 1750 dan dimakamkan di Gunung Bugel Lasem.
Raden Panji Margono, gugur di Karang Pace, Lasem bagian barat, tahun 1750, jenazahnya dimakamkan di Desa Dorokandang Kecamatan Lasem.
Tan Kee Wie, gugur di selat antara Pulau Mandalika dan Ujung Watu, Jepara, setelah perahunya tertembak Meriam VOC Belanda tahun 1742.
Yanto, salah satu pegiat sejarah di Lasem menjelaskan untuk mengenang jasa-jasa mereka, didirikanlah Klenteng Gie Yong Bio pada tahun 1780.
“Jadi klenteng ini sebagai bentuk penghormatan untuk ketiga tokoh tersebut,” tandas Yanto yang juga menjadi pemandu wisata.
Sementara itu, seorang warga Tionghoa di Lasem, Oenardi menyebut klenteng dengan kong co tokoh Jawa seperti Raden Panji Margono menjadi satu-satunya di Kabupaten Rembang.
“Di klenteng lain se-Kabupaten Rembang nggak ada. Kalau di Juana, Pati ada,” tuturnya.
Oenardi menimpali persahabatan antara Raden Panji Margono dengan dua tokoh Tionghoa, sekaligus menunjukkan sejak dulu sudah berjuang bersama-sama, tanpa memandang latar belakang perbedaan ras maupun suku. (Musyafa Musa).

