
Rembang – Almarhum KH. Baidlowi Lasem adalah salah satu ulama asal Kabupaten Rembang, yang hidup dimasa penjajahan. Ia juga disebut turut andil dalam perjuangan merebut kemerdakaan.
Atas dasar itulah, muncul gagasan untuk mengusulkan nama Kiai Baidlowi sebagai pahlawan nasional.
Kepala Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Rembang, Achmad Sholchan, menjelaskan Kiai Baidlowi merupakan tokoh asal Lasem yang dari segi keilmuan dan kealimannya tidak diragukan lagi.
“Dari sisi nasionalisme dan toleransinya, ini bisa dijadikan contoh bagi masyarakat Rembang, khususnya generasi muda,” terangnya saat membuka acara bedah buku biografi KH. Baidlowi Lasem, Selasa (25/11).
Ia berharap, tokoh – tokoh masyarakat di Kabupaten Rembang bisa meneladani sosok Kiai Baidlowi.
“Harapannya tokoh – tokoh yang kami undang ini bisa mencontoh dan menerapkan dalam kehidupan sehari – hari.” imbuhnya.
Sholchan menambahkan, dengan segala rekam jejak sejarah yang ada, peluang untuk mengusulkan nama Kiai Baidlowi sebagai salah satu pahlawan nasional terbuka lebar.
Hal tersebut bisa terealisasi, apabila ada dukungan dan peran aktif dari Pemkab Rembang.
“Ada upaya dan ikhtiar juga dari keluarga agar Kiai Baidlowi diusulkan memperoleh gelar pahlawan nasional. Salah satu prosedurnya adalah menggelar seminar nasional dengan mendatangkan narasumber yang berkompeten. Yang endingnya nanti harus dapat surat rekomendasi dari Kementerian Sosial,” pungkasnya.
Sementara itu, Amirul Ulum, penulis buku biografi KH. Baidlowi Lasem menggambarkan, bahwa sosok Kiai Baidlowi merupakan ulama yang tidak suka menonjolkan diri, namun dikagumi banyak orang.
Oleh sebab itu, Ulum menulis biografi seorang Kiai Baidlowi, karena ingin ajarannya bisa diturunkan kepada masyarakat luas.
“Tujuan saya ingin menampilkan beliau agar bisa menjadi uswah (contoh) bagi yang lain. Sehingga ketika murid – murid almarhum sudah tidak ada, uswah itu bisa terus berjalan,” imbuh Ulum.
Kiai Baidlowi sendiri dikenal sebagai pencetus gelar Soekarno Huwa Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah. Gelar tersebut mempunyai makna, Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat. (Wahyu Adi).

