Sentuhan Sayang Untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Lebih Peka Terhadap Tanda-Tanda Kekerasan
Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada Rembang menggelar sosialisasi anti kekerasan seksual bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) Lasem.
Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada Rembang menggelar sosialisasi anti kekerasan seksual bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) Lasem.

Rembang – Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada Rembang menggelar sosialisasi anti kekerasan seksual bagi anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) Lasem, hari Rabu (29 Oktober 2025).

Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus yang kerap kali menjadi kelompok paling rentan terhadap kekerasan, terutama kekerasan seksual.

dr. Iffa  Luthfiyah, salah satu Dokter Umum di RS Bhina Bhakti Husada,  sekaligus pemerhati isu perlindungan anak, hadir sebagai narasumber utama.

dr. Iffa mengajak para guru, orang tua, dan tenaga pendamping untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang sering tak terlihat secara kasat mata.

“Anak-anak berkebutuhan khusus sering kali menyimpan luka yang tak terucap. Mereka mungkin tidak bisa berkata ‘tolong’, tapi perilaku dan tatapan mereka bisa berteriak meminta perlindungan. Di sinilah kita harus hadir bukan sekadar sebagai pendidik atau orang tua, tapi sebagai pelindung,” ungkap dr. Iffa.

Kegiatan ini juga menghadirkan sesi diskusi interaktif dan simulasi sederhana, guna membantu para peserta memahami cara mengenali serta mencegah kekerasan seksual sejak dini.

Para guru dan orang tua tampak antusias, bahkan beberapa tak kuasa menahan haru ketika mendengarkan kisah nyata anak-anak korban kekerasan yang berhasil bangkit melalui pendampingan dan kasih sayang.

Sementara itu, Direktur RS Bhina Bhakti Husada, dr. Muhammad Syahirul Alim, Sp. PD yang diwakili Manager Marketing, Tatit Dharma mengatakan anak berkebutuhan khusus harus tumbuh di lingkungan yang aman dan penuh cinta.

“Anak berkebutuhan khusus berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, dihargai, dan dicintai. Rumah Sakit Bhina berkomitmen menjadi bagian dari perjuangan ini,” ujarnya.

Tatit menambahkan program rumah sakit masuk sekolah-sekolah merupakan kegiatan rutin.

“Temanya beda-beda, sesuai hasil komunikasi dengan guru. Misal sebelumnya di SMK N I Gunem, kita ambil temanya bahaya pernikahan dini. Kita klasifikasikan, biar pas untuk sekolah,” imbuh Tatit.

Menurutnya, dengan cara berkunjung ke sekolah, tidak hanya menyapa masyarakat secara langsung, tetapi pihak RS Bhina Bhakti Husada juga ingin memberikan nilai lebih mengenai arti penting edukasi kesehatan. (Adv).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.