
Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang mendorong sosialisasi secara masif tentang kegiatan Sensus Ekonomi, supaya tidak muncul penolakan dari masyarakat akibat salah paham.
Asisten Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Rembang, Teguh Gunawarman mencontohkan tiap kali sensus, ada saja warga yang buru-buru menutup pintu rumah.
Hal itu terjadi karena mengira petugas yang datang adalah penagih hutang atau muncul anggapan lain.
“Pada lari, ditutup pintunya. Tak kiro debt collector e mas. Lha ini ciri-ciri petugas Sensus Ekonomi mudah diketahui, pakai rompi hitam dan memakai kartu identitas,” ungkapnya.
Teguh menyebut bahwa Sensus Ekonomi, tidak ada keterkaitan dengan penagihan pajak, izin usaha maupun masalah bantuan sosial.
“Andai ada warga yang punya usaha kok merasa belum punya izin, nggak ada masalah. Termasuk anggapan akan mendapatkan bantuan, nggak, nggak ada,” tandasnya.
Maka Teguh mengajak jajaran pemerintah, dari tingkat kabupaten hingga desa, turut membantu memberikan sosialisasi kepada masyarakat, Sensus Ekonomi bertujuan untuk memotret kondisi perekonomian, sebagai bahan pemerintah mengambil kebijakan.
“Ini jangkanya 10 tahun sekali. Dalam rapat koordinasi, penting disampaikan. Bisa pula lewat WA group, agar tujuan Sensus Ekonomi ini dapat dipahami masyarakat,” imbuh Teguh.
Pada hari Selasa (23 Juni 2026), berlangsung pencanangan pelaksanaan Sensus Ekonomi di Hotel Aston Inn Rembang.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang, Jubaedi membeberkan sebanyak 712 orang petugas Sensus Ekonomi dikerahkan, untuk mengunjungi semua bangunan.
“Pendataan door to door sedang berlangsung. Jadi semua bangunan kita kunjungi. Mulai bangunan kosong, bangunan berpenghuni, bangunan usaha, maupun bangunan bukan usaha. Seluruh bangunan, kita kunjungi,” terangnya.
Jubaedi menambahkan Sensus Ekonomi berlangsung dari tanggal 01 Mei sampai 31 Agustus 2026.
Khusus pendataan lapangan door to door, dimulai tanggal 15 Juni – 31 Agustus 2026.
Menurutnya, Sensus Ekonomi terakhir kali pada tahun 2016 lalu. Kala itu, pola usaha masih didominasi model bisnis yang bersifat tradisional dan fisik, sedangkan transaksi perdagangan sebagian besar dilakukan secara konvensional.
“Namun realitanya sekarang di 2026, kecepatan tekhnologi informasi berkembang, variasi usaha sangat banyak, tahun ini ada perubahan cepat dan mendasar. Ekonomi digital dan ekonomi kreatif, mendorong munculnya berbagai usaha baru,” kata Jubaedi.
Lebih lanjut Jubaedi mengungkap data pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Rembang pada tri wulan I tahun 2026 sebesar 6,64 % secara year on year, sedangkan pertumbuhan ekonomi tahunan, pada akhir tahun 2025 berada di angka 5,77 %.
“Melalui Sensus Ekonomi nanti, hasilnya akan bisa diketahui potensi ekonomi daerah di Kabupaten Rembang. Kalau dulu, sektor dominan ada di bidang pertanian, sekarang mulai bergeser ke sektor industri,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

