
Rembang – Setelah terjadi rentetan keracunan MBG, akhirnya sekolah di bawah naungan Genius Islamic School (GIS), sebelah utara Perempatan Mondoteko Rembang memutuskan untuk tidak menerima MBG lagi.
Sebelumnya, di sekolah yang memiliki jenjang kelompok bermain, TK hingga SD dengan jumlah 380 anak tersebut, sempat menerima MBG.
Kemudian digelar jajak pendapat orang tua/wali murid melalui selebaran tertulis, ingin tetap menerima MBG atau menolak.
Hasilnya, lebih dari 80 % orang tua/wali murid menolak, dengan alasan mengutamakan keselamatan siswa dan masih was-was terhadap kejadian keracunan.
Kepala SD Nurul Iman GIS, Athourrohman Said menuturkan keputusan tidak menerima MBG, mengacu keinginan orang tua/wali murid.
“Kami menyesuaikan kehendak orang tua yang menyekolahkan putra-putrinya di sini. Sebenarnya dulu waktu menjelang dikasih MBG, mayoritas sudah banyak yang menolak. Tapi coba tetap kami terima. Setelah kabar keracunan di sekolah-sekoah lain, akhirnya kami putuskan tidak menerima lagi,” ungkapnya, Rabu (23 September 2026).
Pemilik sekolah GIS Rembang, Fitrisari menjelaskan setelah tidak lagi menerima MBG, siswa tidak mempermasalahkan.
Kebetulan di sekolahnya juga sudah ada program makan yang dikelola secara mandiri di kantin sehat.
“Untuk TK makannya jam 09 pagi, sedangkan siswa SD jam 12 siang. Masakannya lebih fresh, karena tidak nunggu terlalu lama. Jadi meski MBG berhenti, ya nggak ada masalah,” kata wanita yang akrab disapa Fifi ini.
Fitrisari berharap kedepan dapur SPPG akan terus berbenah, dari sisi kualitas, variasi menu, maupun kebersihannya.
“Tapi kalau disuruh memilih, ya sebenarnya kita berharap anggaran MBG dapat dialihkan ke sektor lain yang lebih bermanfaat, termasuk sektor pendidikan,” imbuhnya.
Sejumlah kalangan mengapresiasi langkah yang ditempuh sekolah GIS Rembang, karena tak sekadar menolak, tetapi ada solusi untuk tetap mendukung gizi anak.
“Saya kira patut dicontoh oleh sekolah-sekolah lain, untuk mengurangi beban anggaran negara karena MBG. Yah gimana ya, MBG itu kan porsi banyak, ribuan jumlahnya kan, dimasak lewat tengah malam, dini hari, nggak heran kalau masih banyak yang khawatir,” kata Wibowo, seorang warga di Rembang.
“Saya sejak awal, selalu membawakan bekal makan buat anak ketika sekolah, agar terhindar dari kemungkinan keracunan MBG,” ungkap salah satu orang tua murid, Nining.
“Kalau siswa ditanya milih tetap ada MBG atau tidak, mungkin jawabnya masih pengin ada MBG. Soalnya daripada nggak dapat apa-apa, ya mendingan dapat. Coba mereka ditanya, pengin MBG atau uang saku untuk beli makan di kantin, pasti mayoritas akan pilih uang saku,” timpal warga lain, Nurudin. (Musyafa Musa).
