
Rembang – Kiper PSIR Rembang, Raihan Alfariq mendapatkan sanksi larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jawa Tengah, karena kejadian kaki kanannya menghantam dada pemain Persikaba Blora, saat pertandingan Liga 4 Jawa Tengah yang berakhir dengan skor 0 – 0.
Hukuman tersebut tidak hanya berlaku di tingkat Jawa Tengah, namun secara nasional. Selain itu, ada pula sanksi denda sebesar Rp 5 Juta.
Ketua Komisi Disiplin PSSI Jawa Tengah, Samuel Evan Haryono menyatakan Keputusan diambil, setelah pihaknya mengadakan sidang disiplin.
“Hasil sidang menyatakan secara bulat, hukuman larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup dan denda Rp 5 Juta kepada yang bersangkutan,” terangnya, Kamis (22 Januari 2026).
Meski demikian, pihak Komdis PSSI Jawa Tengah, membuka opsi banding.
Manajer PSIR Rembang, Rasno dalam sesi wawancara, Kamis malam menyatakan rencana mengajukan banding atas keputusan itu, tetap ada.
“Tentu kami harus mencari waktu yang tepat mas untuk banding. Kiper ini masih muda (usia 20 tahun_Red). Kami akan berupaya maksimal memperjuangkan,” ungkapnya.
Namun pihaknya untuk sementara ini akan fokus mematangkan persiapan, menjelang pertandingan babak 16 besar, melawan PSIK Klaten pada hari Minggu 25 Januari 2026.
“Sesuai hasil rapat manajemen tadi, kita fokus dulu pada pertandingan tandang tersebut,” imbuh Rasno, yang juga Kepala Desa Pasar Banggi Rembang ini.
Rasno menegaskan upaya permohonan maaf dengan menemui langsung pemain Persikaba, sudah ditempuh setelah pertandingan. Namun hal itu tidak terwujud.
“Akhirnya kami menyampaikan permohonan maaf melalui akun resmi PSIR. Kiper PSIR juga sudah saling komunikasi melalui chat WA dengan pemain Persikaba. Untuk ketemu meminta maaf, kami sudah berusaha, tapi belum bisa,” ujarnya.
Kiper PSIR Rembang, Raihan Alfariq melalui video klarifikasi yang diunggah akun Instagram resmi PSIR, sudah menyampaikan permohonan maaf.
Ia menyebut bahwa kejadian itu tidak ada unsur kesengajaan, untuk menciderai.
“Akibat gerakan refleks saya, tanpa ada maksud menciderai (lawan). Saya memohon maaf kepada pemain, official maupun manajemen Persikaba Blora,” ungkap kiper asli Kota Surabaya, Jawa Timur ini. (Musyafa Musa).

