
Lasem – Pihak Desa Sendangasri Kecamatan Lasem angkat bicara, terkait nasib warganya pasangan suami isteri tuna netra, Rondi dan Suharti yang tidak lagi menerima bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah.
Perangkat Desa Sendangasri yang juga bertugas sebagai admin desa, Yuliana membeberkan semula pasangan tersebut menerima Bansos.
Namun sekira tahun 2022 lalu, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dihentikan. Alasannya, salah satu anak pasangan Rondi dan Suharti bekerja di Semarang, terdeteksi menerima upah sebagaimana buruh pada umumnya.
“Di tahun 2022, terdeteksi anaknya sebagai pekerja penerima upah, dari pusat meng-cut bantuan itu, tanpa sepengetahuan dari desa. Otomatis hilang bantuannya,” ujar Yuliana.
Pada tahun 2024, anaknya sudah tidak bekerja. Pihak desa kemudian mencoba mengusulkan kembali agar Rondi dan Suharti bisa menerima PKH lagi. Namun sampai sekarang belum disetujui pemerintah.
“Ada berita acaranya kok, kami tanggal 24 Februari 2025 sudah mengusulkan lagi. Sampai sekarang belum di-acc, jadi bukan kesalahan pihak desa. Memang anaknya yang tahun 2024 sempat nggak kerja itu, pada awal 2025, berangkat kerja ke Jepang,” imbuhnya.
Terlepas dari salah satu anaknya Rondi dan Suharti kerja di Jepang, Yuliana berpandangan keluarga tersebut masih layak menerima Bansos, karena dua-duanya penyandang disabilitas.
“Waktu dicoret itu pun saya sempat gembor-gembor kepada petugas pendamping. Ini dua-duanya tuna netra lho, masak nggak diperhitungkan, pemerintah iku piye kok gitu. Tapi apa kuasa kita yang cuma petugas admin mas. Ada desil-desil itu yang buat siapa, kita juga nggak tahu,” beber Yuliana.
Sementara itu, Kepala Desa Sendangasri, Amin menyampaikan keluarga Rondi dan Suharti termasuk masih saudaranya.
Ia menyebut selain ada anak sudah bekerja, Rondi juga masih punya aset tanah.
“Salah satu anaknya kerja di Jepang. Mungkin itu yang membuat tidak dapat bantuan. Soalnya masih satu KK. Mereka masih saudara saya sendiri kok. Tidak terus karena saudara, kemudian harus dapat bantuan, nggak,” ungkap Kades.
Sebelumnya, Suharti mempertanyakan apakah keluarganya masih layak menerima Bansos, karena ia mendengar bahwa khusus penyandang disabilitas diprioritaskan pemerintah.
“Apalagi untuk ekonomi sehari-hari, kami hanya mengandalkan suami jadi tukang pijat. Penghasilan tidak menentu. Anak kami 4, yang pertama sudah keluarga, yang kedua sudah kerja, yang ketiga baru lulus tahun ini dan anak keempat kelas dua SMA,” kata Suharti. (Musyafa Musa).

