Pentas Kethoprak Di Hutan Selatan Desa Sudo, Baru Pertama Kali Terjadi
Kolase pentas kethoprak Kridho Mudho di hutan sebelah selatan Desa Sudo Kecamatan Sulang, Selasa (19 Agustus 2025).
Kolase pentas kethoprak Kridho Mudho di hutan sebelah selatan Desa Sudo Kecamatan Sulang, Selasa (19 Agustus 2025).

Sulang – Peristiwa langka terjadi di Desa Sudo Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, Selasa (19 Agustus 2025).

Warga Desa Sudo yang selama ini tinggal di hutan, jauh dari permukiman penduduk, pasangan suami isteri Mbah Legiman dan Mbah Sumini, nanggap (menggelar) pentas kethoprak Kridho Mudho dari Jeruk Desa Sendangagung Kecamatan Kaliori.

Saat pagi hari, cuaca masih cerah, sehingga truk pembawa panggung kethoprak maupun pengeras suara bisa lewat jalur truk tebu, untuk sampai ke kediaman Mbah Legiman. Namun siang sampai sore hari, turun hujan.

Kepala Desa Sudo Kecamatan Sulang, Sadi menuturkan informasi yang ia terima, awalnya Mbah Legiman melontarkan nadzar kalau ternak sapi miliknya berkembang sampai 14 ekor akan mengadakan pentas kethoprak Jeruk. (Meski baru tercapai 10 ekor, nadzar dilakukan lebih cepat_Red).

“Jadi kethoprak ini sebagai upaya Mbah Legiman menunaikan nadzarnya. Kalau nggak hujan ya pasti ramai. Tadi siang hujan, ya tetap ada penonton, cuman memang nggak terlalu banyak. Malam cerah, lebih ramai,” tuturnya.

Untuk menuju lokasi pentas kethoprak, sebagian warga berjalan kaki melewati pematang sawah. Mereka kesulitan naik sepeda motor, karena kondisi pematang sawah yang licin.

“Kalau nggak hujan, motor bisa sampai ke sana. Tapi habis hujan tadi, rata-rata ya berjalan kaki,” imbuh Sadi.

Menurutnya, sejak kecil sampai sekarang, baru pertama kali ini ada pentas kethoprak di hutan.

“Setahu saya baru kali ini ada kethoprak di hutan mas. Dulu-dulu nggak pernah ada,” ungkapnya.

Dalam sesi wawancara sebelumnya, Mbah Legiman dan Mbah Sumini sudah lebih dari 10 tahun tinggal di rumah dekat hutan Desa Sudo, jarak dari perkampungan sekira 1 kilo meter.

Keduanya mengaku lebih tenang dan fokus bekerja menjadi pencari daun jati, sekaligus merawat ternak sapinya. Kala itu tahun 2021 saat saya temui, baru memiliki 5 ekor sapi.

“Semula isteri saya sakit-sakitan. Sudah berobat kemana-mana. Setelah tinggal di hutan, kondisi kesehatan isteri justru semakin membaik. Ya sudah kita bertahan di sini terus. Kalau anak-anak tinggal di kampung, tapi ya sering datang ke sini,” kata Mbah Legiman. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.