
Lasem – Meski pernah menemukan harta karun berupa 3 patung emas saat menggali makam keponakannya yang meninggal dunia pada tahun 2004 silam, namun Sumarsono atau akrab dipanggil Mbah Sumar, warga Desa Bonang Kecamatan Lasem tidak ada rencana untuk spekulasi melakukan penggalian lagi.
Menurut Mbah Sumar, untuk mendapatkan barang berharga seperti itu, bukanlah hal yang mudah.
Ia menuturkan selang beberapa tahun kemudian, ada saudaranya meninggal dunia. Kebetulan posisi penggalian makam berhimpitan dengan lokasi temuan 3 patung emas. Ternyata juga tidak ada temuan barang berharga, selain batu bata kuno.
“Saya pepetkan, hanya sekira setengah meteran, ya nggak ada itu mas. Cuma dapatnya batu bata kuno. Pernah kok ada orang dari mana gitu, bawa peralatan diam-diam coba-coba nggali, karena penasaran, ya nggak dapet,” ujarnya.
Selain alasan sulit, Sumarsono juga mengaku trauma jika mengingat kejadian tersebut.
Ia yang menemukan, bukannya mendapatkan penghargaan, justru banyak tekanan, termasuk sering berurusan dengan aparat.
“Bener mas, trauma. Saya nemu, malah sambat lebih dari sakit. Lebih baik nggak nemu, bingung soalnya. Tiap malam, patung ibarat saya keloni terus, khawatir terjadi apa-apa. Jadi belum ada rencana nggali, walaupun saya tahu titik-titik situsnya. Belum dulu,” kata Mbah Sumar.
Setelah posisi patung emas berpindah tangan dan tidak tahu lagi di mana keberadaannya, Mbah Sumar menegaskan sudah langsung mengikhlaskan.
Baginya, pasti ada hikmah di balik peristiwa itu.
“Saya nggak mikir itu, mpun ikhlas mas. Yang udah ya udah. Mungkin sekarang, nilainya Miliaran, wong emas super. Kalau patung itu saya jual buat kehidupan sendiri, ya megah, paling saya sudah nggak tinggal di sini. Sampeyan nyari saya ya sulit, nggak seperti sekarang,” imbuhnya sambil terkekeh.
Mbah Sumar kini hidup sederhana dan bersahaja bersama sang isteri di sebuah rumah, pinggir jalan antara Makam Sunan Bonang dengan Makam Mbah Jejeruk (Sultan Minangkabau).
“Belum lama ini saya nyaris mati kesetrum (tersengat listrik) mas, diselamatkan sama isteri. Wis pokoke bersyukur ternyata masih diberi panjang umur,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

