
Rembang – Seorang saksi di TKP eks Stasiun Rembang membeberkan detik-detik terjadinya pembacokan yang menimpa korban Iis Sugianto (43 tahun) warga asli Kedungdoro Kelurahan Leteh, namun tercatat sebagai warga Desa Sumbangrejo Kecamatan Pamotan, karena memiliki isteri dari desa tersebut.
Juari, saksi pemilik tempat cucian sepeda motor di dalam Eks Stasiun Rembang mengaku sedang asyik mengobrol bersama sejumlah orang, termasuk iis Sugianto, di kursi depan tempat cucian.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari warung kopi sebelah selatan stasiun. Pelaku diduga meminta rokok 1 bungkus, namun hanya diberi sebatang.
“Mengangkat meja, gubrak. Terdengar suara keras begitu,” ujarnya.
Saat keluar warung, berjalan kaki ke arah utara, melintas di tempat tongkrongan korban.
Pelaku marah-marah. Ditegur secara halus oleh korban, justru terkesan menantang. Ia berupaya menarik pelaku agar menjauh. Beberapa orang juga turut melakukan pemukulan, karena merasa jengkel.
“Awalnya sudah ditanya halus-halus mas, sampeyan tiyang pundi (anda orang mana). Malah melotot, ngamuk nantang-nantang. Saya ikut narik, terus korban juga ikut mukul,” imbuh Juari.
Sarung Celurit Dan Wadah Pedang
Setelah pelaku pergi, selang setengah jam kemudian datang lagi dengan membawa senjata tajam jenis pedang. Waktu itu kejadiannya sekira pukul 02.00 pagi dini hari.
Pelaku langsung membabi buta menyerang korban, hingga menderita luka di bagian telinga kanan, tangan kanan dan kaki. Korban sempat lari hingga perempatan jalan lampu bangjo utara stasiun, namun masih dikejar dan dibacok.
“Jadi nggak hanya di depan tempat cucian saja pembacokannya. Korban sudah lari ke utara sana, masih dibacok, itu bekas darahnya masih ada di jalan,” bebernya.
Saat pelaku datang membawa senjata tajam, ia bersama warga lain di sekitar TKP juga kabur menyelamatkan diri.
“Pada takut mas, nggak sampai melerai. Lari yang paling terakhir saya, karena posisi terjepit. Mungkin setelah 2 atau 3 kali pembacokan, saya lari ketika melihat pedangnya sempat terlepas. Usai pembacokan, warung kopi ya langsung tutup semua mas,” kata Juari.
Di sekitar TKP, warga menemukan sarung kulit wadah celurit dan kayu berlubang yang biasa digunakan untuk menyelipkan pedang. Hingga saat ini barang bukti tersebut masih diamankan warga.
Menurutnya, terduga pelaku sehari-hari dikenal sebagai pengamen. Ia sendiri tidak kenal. Namun keterangan dari sejumlah rekannya, pemuda bertato ini sering marah-marah kalau tidak diberi uang.
Pihak Polres Rembang hingga Selasa sore (29 Juli 2025) masih melakukan pengejaran tersangka yang identitasnya sudah dikantongi.
“Kalau polisi ingin tahu lebih jelas, di sekitar TKP ada kok rekaman CCTV,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

