
Makassar – Sektor minyak dan gas (Migas) saat ini menempati urutan kedua, penyumbang penerimaan negara terbesar Indonesia, setelah pajak. Angkanya sudah menembus Rp 5,045 Triliun, dalam kurun waktu 22 tahun.
Hudi D. Suryodipuro, Kepala Divisi Program Dan Komunikasi SKK Migas menyampaikan data tersebut, saat berlangsung Media Gathering Regional Indonesia Timur di Makassar, Senin (23 Juni 2025).
“Kalau dulu gas itu ditaruh ke ekspor, tapi sekarang menjadi prioritas kebutuhan domestik. Bahkan hampir 70 % gas yang diproduksi, diperuntukkan ke pasar domestik,” bebernya.
Hudi menambahkan capaian investasi Migas pada tahun 2023 mencapai Rp 206 Triliun.
Meski menghadapi sejumlah kendala, namun capaian kerja investasi hulu Migas sepanjang tahun 2024, diperkirakan mencapai Rp 245 Triliun atau naik 12 %, dibandingkan realisasi tahun 2023.
“Kendalanya semisal pengeboran sumur pengembangan karena savety stand-down, ketersediaan rig dan tenaga kerja, serta bencana banjir di lokasi,” kata Dudi.
Menurutnya, situasi sekarang tidak lepas dari kondisi ekonomi global dan perang antar negara.
“Kemarin ada perang Rusia dengan Ukraina, belakangan ada Iran dengan Israel. Ada juga perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Suasana geopolitik akan sangat berpengaruh,” ungkapnya
Ia menyebut konsumsi volume gas kedepan akan meningkat 298 %, sedangkan konsumsi minyak akan naik hingga 130 %.
“Artinya apa, masih banyak peluang kesempatan dari industri hulu Migas untuk berkontribusi terhadap perkembangan negara ini. Butuh dukungan dari banyak pihak, termasuk kawan-kawan media,” imbuh Dudi.
Saat ini, kapasitas produksi mencapai 1,5 juta Barel/hari, berasal dari 20 cekungan. Maka, peningkatan produksi menjadi target utama SKK Migas.
“Kalau total semua 128 cekungan. Dari 108 cekungan sisanya, itu ada 8 cekungan yang sudah dibor. Tapi belum ada indikasi terhadap hidro karbon. Yang lain, tentu menjadi tantangan kita untuk mengejar target,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

