Dua Masalah Yang Membuat Was-Was Kartini, Kondisi Terkini Wanita Hidup Sendirian Di Hutan
Kesibukan bu Kartini membuat pupuk kompos. Ia kini semangat menanam kunir dan kencur.
Kesibukan bu Kartini membuat pupuk kompos. Ia kini semangat menanam kunir dan kencur.

Rembang – Apa kabar ibu Kartini ? Seorang wanita yang hidup sendirian di tengah hutan, perbatasan antara Kabupaten Rembang Jawa Tengah dengan Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Banyak yang kangen sekaligus penasaran bagaimana kondisi ibu Kartini sekarang.

Saya kesana, seperti biasa melintasi jalan tengah hutan belantara. Banyak pohon meranggas, karena kemarau. Jalanan pun kering berdebu.

Tiba di kediaman Ibu Kartini, disambut dengan hangat dan senyuman. Secara fisik, wanita yang hampir berusia 60 tahun ini, tampak lebih sehat. Wajahnya juga terlihat lebih segar, jika dibandingkan saat saya berjumpa beliau pertama kali pada tahun 2020 silam.

Namun di balik itu, Bu Tin, demikian panggilan akrabnya, memendam kegelisahan.

Ia menyebut gubuk panggungnya beberapa kali nyaris habis terbakar, karena efek pembakaran lahan dari orang tak dikenal.

Mungkin maksud hati ingin mudah membersihkan semak belukar dengan cara dibakar, tapi si jago merah menjalar cepat hingga belakang gubuknya.

Bu Tin pontang-panting memadamkan sendirian. Bahkan harus berlarian kesana kemari, karena hembusan angin kencang di musim kemarau, membuat api sulit terkendali.

Sebagian tanamannya yang menjadi pagar pembatas ikut mati terbakar.

“Saya termasuk orang paling suka menanam. Bertahun-tahun tanaman saya rawat, tumbuh menghijau, kini mati. Tentu sangat disayangkan sekali,” ucapnya lirih.

Beruntung, ia masih mampu melokalisir api, sehingga gubuk panggungnya selamat. Tapi peristiwa yang sudah dua kali terjadi ini, membuatnya trauma.

“Api itu kalau ada angin, berterbangan cepat sekali, lha di pekarangan saya banyak pohon buah-buahan, di bawahnya banyak daun kering. Memang saya biarkan seperti itu, daunnya buat pupuk kompos. Saya nggak mau tanaman yang saya perjuangkan mati terbakar, hanya karena ulah orang tidak bertanggung jawab,” tandasnya.

Semakin Semangat Bertani

Selain kebakaran, masalah air juga menjadi tantangan di musim kemarau. Bu Tin harus berhemat betul, antara memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari dan berbagi dengan tanaman.

Ia bersyukur listrik pembangkit surya masih mampu menyedot air dari sibel di samping gubuknya.

“Sumur ini bantuan dari Perhutani Jawa Tengah. Meski sifatnya untuk rembesan, tapi syukur masih keluar air. Kalau dapat dua blung, yang satu untuk mandi, cuci, masak, yang satu blung lagi kadang buat siram-siram,” ujar Bu Tin.

Hari-hari Bu Tin masih tetap dihabiskan dengan bertani. Ia belakangan semangat menanam kunir dan kencur, karena harganya lumayan.

“Dulu harganya sering dipermainkan sama tengkulak. Tapi sekarang kebetulan ada temen yang kasihan sama saya, mau menjualkan ke pasar. Jadi itung-itungan harganya masih sebanding,” imbuhnya tersenyum.

Kabar gembira lainnya, Bu Tin berbagi kisah tiga anak-anaknya yang tinggal di luar kota, membuatnya jauh lebih semangat.

Ia bersyukur punya tambahan cucu dari putera pertama, kemudian puteri keduanya baru saja selesai kuliah S 2 di Selandia Baru dan puteri ketiga yang mendapatkan suami warga Korea, memiliki aktivitas menyenangkan di sana.

“Jadi ibu di sini rasanya sudah plong, tinggal mendo’akan yang terbaik buat mereka,” pungkasnya.

Tak terasa sudah pukul 7 malam, saya pamit balik ke Rembang, tentunya membawa banyak inspirasi dari Bu Tin. Sehat, Semangat!! (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan