Catatan Petugas Haji (20) : Di Momen Inilah, Tawaf Boleh Menggunakan Pakaian Biasa (Tanpa Ihram)
Suasana jalan di dekat kawasan Mina, jemaah ramai membeli minum di swalayan Bin Dawood, seusai lempar jumrah. (Foto atas) Suasana Tawaf Ifadah di pelataran Ka’bah, jemaah sudah boleh menggunakan pakaian biasa.
Suasana jalan di dekat kawasan Mina, jemaah ramai membeli minum di swalayan Bin Dawood, seusai lempar jumrah. (Foto atas) Tawaf Ifadah di pelataran Ka’bah, jemaah sudah boleh menggunakan pakaian biasa.

Makkah – Setelah melempar jumrah di musim haji tahun 2023, jemaah haji memotong atau mencukur rambut kepala (tahallul), sebagai bagian menjalankan rukun haji.

Bahkan banyak pula yang langsung mencukur gundul rambutnya, karena dianggap lebih afdal.

Para jemaah juga Tawaf Ifadah, salah satu rukun haji yang wajib dilakukan seusai lempar jumrah. Waktu utamanya pada tanggal 10 atau 11, 12 atau 13 Dzulhijjah, sebelum hari tasyrik berakhir.

Tawaf Ifadah boleh menggunakan pakaian biasa atau tidak memakai ihram. Jemaah tak perlu khawatir dilarang aparat setempat, seperti hari-hari sebelumnya yang wajib memakai ihram ketika masuk pelataran Ka’bah.

Tawaf Ifadah dengan cara mengelilingi Ka’bah 7 kali putaran, hal ini sebagai tanda kesetiaan dan penghormatan kepada Allah SWT. Jika tidak melakukan, maka ibadah haji tidak sah.

Suasana jalanan di sekitar kota Makkah pada tanggal-tanggal tersebut, jemaah terkonsentrasi pada area di sekitar Mina dan jalan menuju Masjidil Haram.

Yang paling mencolok adalah banyaknya tempat potong rambut dadakan, menempati kios maupun Ruko, untuk melayani jemaah potong rambut. Waktu itu di tahun 2023, sekali cukur gundul, rata-rata tarifnya dipathok antara 20 – 25 Real (atau setara Rp 80 – 100 Ribu).

Tapi banyak pula antar jemaah saling bergantian mencukur rambut, dengan memakai alat cukur, membeli dari toko dekat hotel.

Situasi mencolok lainnya, semakin banyak pedagang dadakan menjajakan berbagai oleh-oleh. Tidak hanya di Ruko, tetapi lesehan di depan hotel jemaah menginap.

“Mulai cincin batu akik, jam tangan, baju muslim, surban, buah qurma, dan masih banyak lagi yang lain, tinggal pilih. Biasanya harga lebih murah yang pedagang lesehan, asal pinter-pinter menawar saja,” ungkap seorang jemaah haji asal Palembang.

Aktivitas Petugas

Setelah Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) selesai, petugas Sektor Khusus (Seksus) Masjidil Haram yang sempat diperbantukan, kemudian ditarik kembali ke Masjidil Haram, untuk fokus membantu jemaah selama Tawaf Ifadah.

Kali ini sangat jarang ditemukan adanya jemaah nyasar, karena kebanyakan sudah memahami alur di sekitar Masjidil Haram.

Paling sering kita membantu jemaah Lansia yang kelelahan, dengan menggunakan kursi roda atau membantu sandal, agar jemaah tidak melepuh kakinya.

“Sekali lagi kalau bawa sandal, jangan dititipkan ke temennya. Lebih baik dibawa sendiri saja. Soalnya sering kali kalau jemaah usai tawaf, terpisah dengan temannya. Ditelfon pun sulit, apalagi jika salah satu nggak bawa HP. Jadi ketika mau pulang, nggak pakai sandal, bisa-bisa kaki melepuh,” ujar seorang petugas haji, dr. Leksmana.

Pasca tawaf ifadah, jemaah haji Indonesia yang masih berada di tanah suci Makkah, lebih banyak mengisi waktunya dengan umrah sunnah maupun badal umrah (menggantikan ibadah umrah seseorang yang sudah meninggal dunia, lanjut usia atau sakit sehingga tidak mampu).

Intensitasnya cenderung meningkat. Hal itu tampak dari ramainya Masjid Aisyah di wilayah Tan’im, yang menjadi lokasi Miqat (batas tempat untuk memulai umrah).

Jarak Masjid Aisyah dengan Masjidil Haram sekira 7 kilo meter arah utara, sekaligus merupakan titik terdekat mengambil Miqat.

Jemaah bisa ke Masjid Aisyah dengan naik taxi, angkutan umum atau bus gratis yang disediakan pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

“Khusus bus gratis, bisa naik dari terminal di sekitar Masjidil Haram. Ada nomor kode bus, nanti oper sekali, bisa langsung sampai ke Masjid Aisyah. Pulangnya turun di terminal sekitar Masjidil Haram lagi. Yang penting hafalin nomor bus nya, bisa tanya-tanya ke sesama jemaah,” ungkap seorang jemaah haji asal Jambi, Sidiq.

Setelah tulisan ini, akan saya kisahkan perjalanan ke Madinah, sedikit mengobati rasa kangen dengan Indonesia, karena bisa membeli bakso. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan