Penasaran, Berapa Sich Biaya Hidup Di Kabupaten Rembang Setiap Bulan ??
Nilai konsumsi dalam survei biaya hidup 9 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Nilai konsumsi dalam survei biaya hidup 9 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Rembang – Nilai konsumsi rata-rata dalam survei biaya hidup (SBH) di Kabupaten Rembang mencapai Rp 4.668.162,46 setiap rumah tangga per bulan.

Angka tersebut diperoleh, setelah pada tahun 2022, Kabupaten Rembang menjadi salah satu sasaran daerah survei biaya hidup, bersama 8 kabupaten/kota lain  di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Cilacap, Kab. Banyumas, Kab. Wonosobo, Kab. Wonogiri, Kab. Kudus, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Tegal.

Setelah melalui pengolahan data selama tahun 2023, hasilnya baru dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Rembang di tahun 2024 ini.

Kepala BPS Kabupaten Rembang, Teguh Iman Santoso menjelaskan dari 9 kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang disurvei, posisi Kabupaten Rembang berada di tengah-tengah.

“Bukan paling bawah dan juga bukan paling tinggi. Rp 4,6 Juta itu estimasinya rata-rata di satu rumah tangga ada 4 orang,” kata Teguh Iman.

Nilai konsumsi rata-rata per rumah tangga di Kabupaten Rembang lebih tinggi, dibandingkan Kabupaten Wonosobo dan Wonogiri.

“Kebetulan 3 daerah ini, Rembang, Wonosobo dan Wonogiri merupakan daerah tambahan, yang sebelumnya tidak jadi sasaran survei. Nah kalau perbandingannya tiga daerah ini, Rembang tertinggi,” imbuhnya.

Tapi nilai konsumsi survei biaya hidup Kabupaten Rembang lebih rendah dibandingkan 6 daerah lain. Kota Semarang berada di urutan nilai konsumsi tertinggi, dengan angka Rp 8.967.089,66.

Data tersebut memunculkan pertanyaan, apakah hal itu menjadi salah satu faktor kenapa angka kemiskinan di Kabupaten Rembang masih cukup tinggi, sebanyak 91.970 jiwa atau 14,17 % pada tahun 2023.

Alasannya, upah minimum kabupaten (UMK) hanya Rp 2,1 Juta, sedangkan nilai konsumsi rata-rata per bulan Rp 4,6 Juta setiap rumah tangga.

“Kalau yang bekerja dalam rumah tangga hanya 1 orang ya berat, tapi kalau 2 orang ??,” ujarnya balik bertanya.

Tapi Teguh Iman lebih menyoroti bahwa secara umum warga Kabupaten Rembang mampu menghidupi keluarganya, namun angka penghasilannya masih pas-pasan dan belum mencapai angka ideal.

“Mereka tetap bekerja, tapi yang yang diterima belum ideal, masih pas-pasan. Mungkin karakter orang Rembang nerimo,” beber Teguh Iman.

Ia menyebut besaran penghasilan ada keterkaitan dengan angka kemiskinan. Menurutnya, semakin banyak pendapatan, cenderung akan semakin tinggi nilai konsumsinya.

“Kalau penghasilannya mencukupi untuk kebutuhan dasar, dia tidak miskin. Tapi kalau yang didapatkan di bawah standar hidup layak, posisinya akan jadi miskin,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan