HNSI Soroti Harga Ikan Anjlok, Bupati Ungkap Penyebabnya
Ikan yang dilelang di TPI Tasikagung Rembang.
Ikan yang dilelang di TPI Tasikagung Rembang.

Rembang – Nelayan di Kabupaten Rembang mengeluhkan harga ikan semakin anjlok. Penurunan rata-rata terjadi antara 20 – 30 % pada setiap jenis ikan, jika dibandingkan saat harga masih stabil, sebelum musim ombak baratan.

Fenomena tersebut bahkan sudah mulai terasa menjelang akhir tahun 2023.

Muslim, pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rembang menjelaskan hasil tangkapan ikan melimpah, sedangkan harga ikan anjlok.

“Pengolahan TPI tahun ini menurun, dari sisi produksi sangat baik. Harga ikan sangat merosot, sehingga nilai raman (lelang ikan) menurun,” tuturnya.

Muslim juga menyebut daya beli dari bakul. Menurutnya, keterbatasan modal bakul ikan, perlu ditopang pinjaman perbankan dengan bunga lunak, sehingga mereka bisa membeli ikan di tempat pelelangan.

“Kami mohon Pemkab Rembang dapat mendorong perbankan memberi pinjaman kepada bakul dengan bunga lunak dan bisa membeli ikan di TPI (tempat pelelangan ikan-Red). Lelang ikan juga berkontribusi ke pendapatan asli daerah (PAD),” kata Muslim.

Muslim memperinci nilai lelang ikan di Kabupaten Rembang tahun 2022 mencapai Rp 386 Miliar, kemudian tahun 2023 menurun menjadi Rp 326 Miliar.

“2,55 % masuk ke pemerintah, masuk PAD,” terangnya.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyatakan ketika jumlah barang banyak, biasanya harga turun.

“Ini lebih ke hukum ekonomi, hukum alam. Kalau barang sedikit yang butuh banyak, pasti harga naik. Situasi sekarang sebaliknya,” ujarnya.

Ia mencontohkan dulu China banyak mengekspor ikan dari Indonesia, tapi sekarang Indonesia mulai kalah bersaing dengan negara lain, seperti Vietnam dan Thailand.

“Saya kemarin sempat ke Vietnam, namanya rajungan itu besar-besar, saya sampai heran. Betapa majunya budidaya, kita kalah. Sana lobster bibitnya dari Indonesia, tapi budidayanya bagus, besar-besar. Thailand juga gitu, kita kalah jauh,” beber Hafidz.

Sedangkan menyangkut pembayaran cash lelang ikan, Pemkab Rembang sudah pernah menerapkan cash management system (CMS), kerja sama dengan Bank BRI.

BRI memberikan pinjaman kepada bakul untuk modal membeli ikan nelayan. Pada awal-awal berjalan lancar, namun setelah itu bakul ikan tidak konsisten mengangsur ke pihak bank.

“Kita sudah berupaya maksimal dengan Bank BRI, bank kerja sama dengan bakul ikan. Satu dua kali clear, tapi kemudian BRI merasa keberatan, karena bakul tidak konsisten pembayarannya. Kami tidak bisa menekan bank, malah salah nanti,” imbuhnya.

Bupati menambahkan Pemkab akan terus memantau pergerakan dari hulu ke hilir, terkait distribusi ikan hasil tangkapan nelayan.

Semua pihak juga perlu berbenah, karena persaingan kedepan antar negara akan semakin ketat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan