
Makkah – Menjadi petugas haji di Sektor Khusus (Seksus) Masjidil Haram, menurut saya memiliki banyak sisi menarik.
Selain dapat menikmati air zam-zam setiap saat, kita juga memperoleh keuntungan bisa menunaikan sholat berjamaah di area sekitar Ka’bah.
Nah..pengalaman ini yang membuat saya tertegun. Adzan sholat Dzuhur siang itu berkumandang. Terik sinar matahari begitu menyengat.
Kebetulan di bulan Juni 2023 saat bersamaan musim haji, proyek penataan dan perluasan Masjidil Haram masih berlangsung. Menjelang Adzan, suara alat berat proyek tak terdengar, lebih dulu berhenti beroperasi.
Iring-iringan para pekerja mulai bergerak, bercampur dengan jemaah haji, untuk bersiap mengambil air wudhlu.
Toilet dan tempat wudhlu semakin ramai, bahkan di beberapa titik penuh sesak.
Oh ya..posisi toilet dan tempat wudhlu, kebanyakan berada di luar Masjid. Lantaran jaraknya agak lumayan, sering kali saya setelah Dzuhur menahan agar tidak batal, hingga tiba waktu sholat Ashar. Hehehe..demi efektivitas, biar tidak bolak balik.
Yang jelas 1 jam sebelum sholat lima waktu, kawasan Masjidil Haram sudah ramai.
Kebiasaan yang saya amati, begitu suara Adzan berkumandang, warga di sekitar Masjidil Haram betul-betul sangat menghargai. Kalau saya menyebutnya umat merindukan momen itu, seperti layaknya akan ketemu pacar, yang sudah lama tidak bersua.
Buruh bangunan, stop bekerja. Pedagang langsung menutup tempat jualannya. Sopir taxi, sopir bus bergegas memasang kardus di pinggir jalan untuk pengganti sajadah. Petugas kebersihan yang semula banyak berdiri di sepanjang jalan, mulai berjajar membuat shaf sholat.
Jadi jangan kaget, ketika sholat lima waktu di sekitar Masjidil Haram, warga sholat di pinggir jalan, bawah jembatan, trotoar, terminal, bahkan depan toilet.
“Mereka tak ingin menunda sedikitpun untuk melewatkan sholat lima waktu di Masjidil Haram. Memang on time, makanya satu jam, setengah jam sebelum sholat, sudah ramai jemaah mencari tempat sholat. Dengan sholat tepat waktu, insyaallah semuanya akan dimudahkan, termasuk rezeki. Coba anda lakukan, bandingkan dan rasakan perbedaannya,” kata seorang warga Madura yang lama bermukim di Mekkah.
Sebelum sholat mulai, biasanya petugas polisi dan tentara Arab Saudi rutin membuat barikade dengan membongkar pasang pagar pembatas, agar jemaah tidak sholat di sembarang tempat.
Kerap pula terdengar suara teriakan Yallah (ayolah), ketika mengarahkan jemaah yang membandel.
“Yallah, yallah,” ucap seorang petugas dengan mengangkat kedua tangannya.
Khusus Hari Jum’at
Jum’at pagi, jam masih menunjukkan pukul 09.00 waktu setempat. Bus-bus di terminal dekat Masjidil Haram, sudah berhenti beroperasi, menunggu waktu sholat Jum’at. Padahal masih kisaran 3 jam lagi. Ternyata ada ketentuan begitu.
Kondisi tersebut sempat memicu kebingungan jemaah haji Indonesia yang sudah terlanjur naik bus, ingin pulang ke hotel. Kenapa bus kok tidak jalan-jalan ?
“Kalau saya tetap jalan, bisa ditilang dan kena marah polisi,” kata seorang sopir bus dengan bahasa Arab.
Memang benar, tidak ada satupun bus melayani. Sebagian jemaah laki-laki kemudian balik masuk ke Masjidil Haram lagi.
Jemaah perempuan harus menanti sampai sholat jum’at selesai, baru bisa diantar ke hotel. Tampak petugas haji membagikan air minum kepada jemaah di dalam bus, supaya tidak kehausan.
“Oh jadi begitu, khusus hari Jum’at, jemaah perlu menyesuaikan dan beradaptasi dengan aturan di Arab Saudi. Beda sama di Indonesia, umumnya mereka baru datang ke Masjid untuk sholat Jum’at, jam setengah 12 atau malah jam 12 siang,” batinku sambil berjalan kaki menyusuri trotoar terminal.
Sholat Dekat Ka’bah
Kalau ingin sholat lima waktu dekat Ka’bah, anda bisa datang 1 atau 2 jam sebelumnya. Jangan lupa untuk mengenakan pakaian Ihram jika ingin masuk ke lantai dasar. Di luar area tersebut, boleh tanpa memakai Ihram.
Sebelum Adzan, lokasi (seputaran Ka’bah-Red) sudah digunakan jemaah Tawaf. Begitu Adzan, jemaah yang tawaf secara perlahan membentuk shaf. Jangankan lantai dasar dekat Ka’bah, lantai dua pun penuh.
Manakala datang mepet dengan Adzan, jemaah akan kesulitan masuk, karena rekayasa akses jalan oleh petugas polisi. Akibatnya, akan kebagian tempat di luar Masjid.
“Setelah merasakan sholat di luar, akhirnya di hari berikutnya saya datang lebih awal, supaya leluasa cari tempat,” kata jemaah dari Aceh.
Nah..pada tulisan berikutnya akan saya kisahkan suasana setelah sholat di Masjidil Haram dan sejumlah hal yang harus diantisipasi para jemaah. (Musyafa Musa).
