
Pancur – Banyak cara dilakukan petani untuk mencegah serangan hama tanaman jagung.
Salah satunya tergolong cukup langka, yakni dengan membungkus satu per satu buah jagung menggunakan plastik. Seperti yang nampak di lahan jagung, pinggir jalan raya antara Desa Tuyuhan dan Desa Pandan Kecamatan Pancur.
Sayang, ketika kami singgah ke lahan tersebut, sang pemilik lahan tidak berada di lokasi.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, membungkus buah jagung dengan plastik, termasuk sangat jarang ditempuh petani Kabupaten Rembang.
Ia memperkirakan jagung yang diperlakukan “istimewa” itu, kemungkinan jagung manis untuk konsumsi manusia.
“Kalau jagung konsumsi pakan unggas, hampir tidak pernah dijumpai (buah dibungkus), lahannya saja kan sangat luas. Kelihatannya sangat tidak memungkinkan harus dibungkusi plastik,” ujarnya.
Agus menyebut sebenarnya kulit atau klobot jagung sudah menjadi pelindung alami hama burung.
Tapi masih rawan serangan hama penggerek tongkol yang biasanya bertelur di rambut ujung jagung.
Jika petani ingin memastikan bersih dari hama penggerek tongkol, menurutnya bisa saja melakukan inovasi terobosan dengan membungkus plastik buahnya.
“Tapi penggerek tongkol ini relatif mudah dikendalikan, kalau terdeteksi sejak awal,” kata Agus.
Soal sebanding atau tidak apabila buah jagung dibungkus plastik, Agus Iwan berpendapat petani pasti sudah bisa berhitung untung ruginya.
“Mengingat buah jagung manis kan lebih empuk, jadi plastik bisa mencegah serangan hama,” imbuhnya.
Saat ini komoditas jagung manis di Kabupaten Rembang lebih banyak untuk memenuhi pangsa pasar lokal.
Sedangkan secara keseluruhan, pada tahun 2022, luas lahan jagung di Kabupaten Rembang mencapai 34 ribu hektar, dengan hasil panen rata-rata 6,5 sampai 7 ton setiap hektar.
Bahkan Kabupaten Rembang termasuk salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah.
“Harga sekarang juga lumayan bagus, jagung kering pipil rata-rata di atas Rp 5 ribu, sehingga menjadi dorongan petani untuk mengoptimalkan budidaya. Apalagi lahan di sini juga cocok untuk jagung,” pungkas Agus. (Musyafa Musa).

