Sosok Elvie Nurisnawati, Jarang Menemukan Guru Seperti Ini
Di sela-sela mengajar, Elvie Nurisnawati memberikan minum kepada seorang siswanya.
Di sela-sela mengajar, Elvie Nurisnawati memberikan minum kepada seorang siswanya.

Rembang – Seorang guru di Rembang terampil menjadi pemain kethoprak. Selain itu, juga sebagai pembawa acara (MC) dan penyanyi. Uniknya selama aktivitas mengajar, guru ini dikenal sangat inovatif.

Nah..berikut liputan khusus untuk memeriahkan Hari Guru Nasional yang rutin diperingati tiap tanggal 25 November.

Namanya Elvie Nurisnawati, wanita berusia 28 tahun ini warga Desa Kaliombo Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang.

Elvie sejak tahun 2016, menggeluti dunia seni kethoprak Langen Wandowo yang dibentuk sang ayah. Bahkan ia selalu langganan menjadi pemeran utama wanita.

Elvie mengungkapkan pada bulan-bulan tertentu, jadwal manggung pentas kethoprak cukup padat.

“Waktu sebelum Corona itu ramai banget. Pasca corona, ini sudah mulai bangkit lagi,” ungkapnya.

Seiring waktu bergulir, Elvie memiliki profesi baru sebagai guru TK Tunas Bangsa di Jalan Pemuda Rembang. Sudah 2 tahun ini ia menjadi guru TK.

Elvie mengaku tak terlalu susah membagi waktu, karena aktivitas mengajar selesai jam 10 pagi. Sedangkan pentas kethoprak biasanya mulai jam 1 siang.

Hanya terkadang faktor rasa lelah saja yang menggelayuti, karena selesai pentas sampai jam tiga dini hari.

“Bersihnya sampai rumah jam 4, istirahat bentar, lalu ngurus anak. Kebetulan saya punya anak kembar, cewek. Habis itu sudah persiapan berangkat ke sekolah,” kata Elvie.

Namun karena kecintaannya pada dunia anak-anak, membuat Elvie menemukan suasana yang menyenangkan di sekolah. Rasa lelahnya pun berubah menjadi semangat berlipat-lipat.

“Dukungan ibu dan keluarga, membuat saya semakin kuat,” tandasnya.

Pada awal-awal mengajar, Elvie mengaku sempat muncul keinginan berhenti sebagai guru. Tapi berkat dorongan motivasi dari seorang guru senior, Elvie memantapkan tekad untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan anak usia dini.

“Waktu itu ada pertemuan di sekitar Alun-Alun Rembang, saya cerita baru dua bulan jadi guru TK. Kebetulan guru tersebut sudah mau pensiun, beliau bilang gini, jadi guru TK jangan memandang dapat materi berapa, tapi kalau kita ikhlas, insyaallah akan dimudahkan semuanya. Kalimat itu yang saya pegang sampai sekarang,” imbuhnya.

Kepala Sekolah TK Tunas Bangsa, Sulasmiati menilai etos kerja Elvie selama ini patut dibanggakan. Jiwa seninya tertular saat mengajar, sehingga muncul inovasi-inovasi. Termasuk ketika mendampingi anak ikut lomba, beberapa kali menyabet juara.

“Dalam menangani anak bagus, tidak pernah membeda-bedakan. Baru saja Bu Elvie sendiri juga ikut lomba menyanyi yang diadakan oleh Ikatan Guru TK dan PGRI, dapat juara I,” ungkapnya.

Meski dari sisi gaji, pihak sekolah baru mampu memberikan Rp 200 Ribu per bulan, namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.

“Waktu awal mendaftar ya saya tanya, gaji di sini sedikit. Kalau main kethoprak kan sehari saja lebih besar. Tapi beliaunya bilang siap, ndak apa-apa. Ternyata kinerjanya juga totalitas,” imbuh Sulasmiati.

Kisah Elvie mungkin tidak sendiri. Masih banyak guru di Indonesia yang aktif, meski dengan gaji pas-pasan, jauh dari kata layak.

Mereka tetap memendam harapan pemerintah memberikan perhatian, sehingga guru non ASN yang sama-sama mencerdaskan anak bangsa, kesejahteraannya akan lebih baik. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan