Saat NU Dan Muhammadiyah Menyatu, Momen Langka Dikemas Pengajian Isra’ Mi’raj
Momen ketika NU dan Muhammadiyah bersama-sama dalam pengajian memperingati Isra’ Mi’raj di SMK Muhammadiyah Gunem, Sabtu (18/02).
Momen ketika NU dan Muhammadiyah bersama-sama dalam pengajian memperingati Isra’ Mi’raj di SMK Muhammadiyah Gunem, Sabtu (18/02).

Gunem – Momen cukup langka terjadi, saat kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berkumpul dalam satu ruangan.

Hal itu ketika berlangsung pengajian umum memperingati Isra’ Mi’raj di SMK Muhammadiyah Gunem, hari Sabtu (18 Februari 2023).

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Rembang, Mohammad Anshori Sholih mengatakan acara yang diprakarsai oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini tergolong jarang. Ia berharap kedepan akan semakin banyak kegiatan serupa.

“Saya sama tokoh-tokoh NU di Rembang sudah biasa, bahkan ada yang tiap hari ketemu, karena kebetulan satu tempat kerja. Secara organisasi, NU dan Muhammadiyah juga terlibat kerja sama yang sifatnya saling menguatkan. Misal di kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH), “ kata Anshori.

Ismangun, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gunem menuturkan pihaknya sudah terbiasa bekerja sama dengan Muhammadiyah.

Contohnya, ketika muncul keresahan ada kafe karaoke di Kecamatan Gunem, ia bersama Kiai Rohmat, sesepuh Muhammadiyah yang tinggal di Gunem, bersama-sama menemui pihak Polsek dan Kecamatan.

“Salut dengan kegiatan ini, untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, antara NU dan Muhammadiyah. Di Kecamatan Gunem rukun, bahkan ketika pak Rohmat punya kerja, saya yang jadi pembawa acaranya, “ ujarnya.

Dalam pengajian tersebut, diisi oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir.

Tafsir mengungkapkan umat perlu diajak mengetahui proses bagaimana perbedaan terjadi antara NU dan Muhammadiyah. Pasalnya, sering kali hanya ditonjolkan pada hasil akhir perbedaan.

“Tahu proses perbedaan itu penting, seringnya kita hanya menerima yang sudah jadi. Semua bisa dijembatani lewat penjelasan yang adil dan seimbang. NU memahami, Muhammadiyah memahami, “ terangnya.

Tafsir mencontohkan penentuan awal puasa dan Hari Raya idul Fitri. Meski kadang terjadi perbedaan, namun hal itu tidak sampai memicu kerenggangan umat.

“Pertama karena pencerahan terus menerus. Kedua, sudah terbiasa sehingga tidak ada ribut lagi. Yang penting ikuti jumhur (mayoritas) nya. Di Indonesia, jumhurnya ya NU dan Muhammadiyah, “ pungkas Tafsir. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan