“Air Mata pun Mengalir Di Gang Boentoe…”
Yon Suprayoga, pemerhati sejarah dan budaya di Lasem. (Foto atas) Anak penyandang disabilitas bersiap tampil membacakan puisi, Sabtu malam (24/09).
Yon Suprayoga, pemerhati sejarah dan budaya di Lasem. (Foto atas) Anak penyandang disabilitas bersiap tampil membacakan puisi, Sabtu malam (24/09).

Lasem – Kegiatan “Moco Puisi Ning Gang Boentoe” di kawasan RT 06 RW 03 Desa Soditan Kecamatan Lasem, Sabtu malam (24/09) benar-benar sukses menguras air mata.

Hal itu terjadi setelah 3 anak penyandang disabilitas dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Lasem, tampil membacakan puisi, bertemakan kehidupan dan keindahan. Orang tua mereka sempat menangis, sehingga para penonton pun ikut larut.

Anak penyandang tuna netra dan autis tersebut, penuh percaya diri, berhasil membuat suasana lebih teduh, melalui bait-bait puisi yang terdengar tangguh dan mengoyak rasa.

Pemerhati sejarah dan budaya Lasem yang juga warga Desa Soditan, Yon Suprayoga mengatakan penampilan anak penyandang disabilitas mendapatkan apresiasi luar biasa.

“Bahkan ada temen saya pedagang asongan yang ikut hadir, tiba-tiba menarik lengan saya, mengajak sedikit menjauh dari keramaian. Ia bilang gini, bertahun-tahun saya tidak pernah menangis, tapi malam ini saya bisa keluar air mata, “ tuturnya.

Yon Suprayoga mencontohkan adanya kejadian yang tidak biasa. Anak autis sering kali tak betah berada di suatu tempat.

Namun malam itu, entah kenapa yang bersangkutan mau datang lebih awal sambil didampingi orang tuanya, kemudian antri menunggu, membaca puisi dan masih meluangkan waktu menonton rekan-rekannya tampil.

“Orang tuanya sendiri bilang sebetulnya takut keluar rumah membawa anaknya tampil di hadapan orang banyak. Orang tuanya juga heran, kenapa bisa betah, padahal biasanya nggak kerasan. Orang tua menangis, saya akhirnya ya kudu nangis dewe mas, “ beber Yon.

Yon menambahkan “Moco Puisi Ning Gang Boentoe” periode September ini, merupakan bulan kedua.

Menurut data awal, semula hanya akan ada 17 orang penampil. Namun ternyata peserta yang hadir membludak, hingga 35 orang. Bahkan ada pula pembaca puisi dari Pati dan Tuban, Jawa Timur.

“Awalnya kita perkirakan jam 10 malam selesai, karena pesertanya banyak, kemudian sepakat dilanjutkan, sampai mendekati jam 12 malam, “ terangnya.

Acara ini sendiri bertujuan untuk mengisi kekosongan kegiatan sastra yang sudah lama vakum di Lasem, sekaligus mendukung promosi Kota Pusaka Lasem. Diharapkan nantinya akan rutin berjalan sebulan sekali.

“Awalnya direncanakan 4 bulan sekali, biar ada baca puisi sama teater. Soalnya kalau garap teater, setidaknya butuh waktu 3 bulan. Tapi temen-temen menghendaki sebulan sekali, prioritas baca puisi dulu dan pihak RT 06 RW 03 Desa Soditan menyanggupi, ya alhamdulillah, “ kata Yon.

Melalui membaca puisi ini, ia berharap menjadi sarana komunikasi, sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang bermanfaat untuk masyarakat.

“Semoga kita bisa konsisten dan kedepan akan lebih banyak lagi yang hadir ke Gang Boentoe, “ pungkasnya tersenyum. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *