
Rembang – Sosok mahasiswa wanita ini tergolong pemberani, ketika berlangsung aksi demo memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di depan Gedung DPRD Rembang, hari Kamis (08 September 2022).
Ia begitu percaya diri membaca puisi persis di depan para pejabat daerah, Kapolres, Bupati maupun Ketua DPRD Rembang. Puisi yang isinya mengkritik kebijakan pemerintah, seraya mendesak tunjangan para pejabat yang seharusnya dipotong, untuk meringankan beban masyarakat.
Yah..wanita bernama Elvin Winta Saputri ini, adalah mahasiswi semester 7 Universitas Terbuka (UT) Rembang. Usianya baru 22 tahun, berasal dari Desa Banyudono, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang.
Elvin mengaku sebenarnya ada perasaan deg-degan, saat membaca puisi yang sarat kritikan tersebut.
Tapi ia berani menyuarakan, karena merasakan sendiri betapa kenaikan harga BBM, berdampak pada banyak sektor dan menyengsarakan masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Iya deg-degan, tapi saya percaya diri saja, harus berani, ” ungkapnya.
Bagi Elvin, penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) kurang tepat. Ia justru berharap pemerintah merancang program subsidi tepat sasaran dan berani memangkas tunjangan aparat dan pejabat.
“BLT dikucurkan bersifat sementara, sedangkan dampak BBM akan meluas dan sifatnya lama. Kalau pemerintah butuh tambahan pemasukan, pangkas saja tunjangan pejabat, jangan korbankan masyarakat, ” tandas Elvin.
Demo tolak harga BBM naik kali ini diikuti sekira 150 an orang mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Mereka berjalan kaki dari Alun-Alun Rembang, menuju gedung DPRD Rembang.
Saat tiba, mahasiswa menghendaki semua peserta aksi masuk ke gedung DPRD. Namun ditolak aparat kepolisian dan menyarankan hanya perwakilan saja.
Merasa kecewa, mahasiswa akhirnya menutup separuh jalur Pantura Semarang – Surabaya di depan Gedung DPRD. Bahkan ada pula yang melakukan aksi bakar poster. Arus lalu lintas agak tersendat, karena kendaraan dari dua arah hanya lewat di separuh jalan Pantura.
Dalam orasinya, Sekretaris PMII Rembang, Riza Rino Lanuardy menyatakan aksi demo merupakan upaya kontrol sosial.
“Kadang ada yang bilang buat apa demo, bikin capek aja. Kita melakukan ini demi ikut melakukan kontrol sosial. Di Rembang, baru PMII yang mengangkat isyu ini, ” kata pria warga Desa Jolotundo Kecamatan Lasem tersebut.
Mahasiswa dan aparat kepolisian sempat bernegosiasi. Polisi tetap bersikukuh melarang semua mahasiswa masuk gedung dewan.
Akhirnya Ketua DPRD dan Bupati Rembang yang sejak lama hadir, sepakat membubuhkan tanda tangan menolak kenaikan harga BBM.
Bupati Rembang, Abdul Hafidz menjelaskan kenaikan harga BBM, diputuskan oleh pemerintah pusat. Pihaknya sebatas menjalankan saja. Tapi karena tuntutan mahasiswa logis, menurutnya layak diteruskan ke pemerintah pusat.
“Ini saya minta tadi pimpinan DPRD mengawal tuntutan adik-adik mahasiswa, untuk diteruskan ke pusat, ” tegas Bupati.
Setelah penandatanganan surat pernyataan, mahasiswa yang berdemo akhirnya mau membubarkan diri. (Musyafa Musa).

