Mereka Terus Berkarya, Meski Dari Balik Jeruji Besi
Kepala Rutan Rembang, Supriyanto (kaos merah) menunjukkan beragam mebelair dan barang kerajinan, hasil warga binaan.
Kepala Rutan Rembang, Supriyanto (kaos merah) menunjukkan beragam mebelair dan barang kerajinan, hasil warga binaan.

Rembang – Beragam cara dilakukan para warga binaan (tahanan dan narapidana) yang ada di Rutan Rembang, untuk sekedar mengusir rasa bosan. Salah satunya yakni membuat barang kerajinan, mulai dari meja kursi hingga miniatur kapal-kapalan.

Seorang warga binaan di dalam Rutan Rembang, Purwo Puji Hartoni mengaku bersama sejumlah rekannya baru saja selesai membuat seperangkat meja kursi untuk rapat.

“Dikerjakan kira-kira 4 orang mas, nggak ada seminggu, paling 5 hari. Kalau bakat nukang, saya sebelumnya sudah punya, “ ujarnya, Senin (10/01).

Purwo menimpali aktivitasnya di dalam ruang pertukangan, berlangsung dari jam 09 pagi sampai dengan 12 siang. Setelah istirahat, kemudian dilanjutkan lagi hingga pukul setengah 03 sore. Baginya, dengan membuat mebelair, tidak merasa jenuh terus-terusan di dalam sel.

“Biar nggak ngalamun, ndak bosen saja, “ imbuh Purwo.

Sementara itu, Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Rembang, Supriyanto mengungkapkan pembuatan mebelair umumnya memanfaatkan kayu-kayu limbah. Ia mencontohkan seperangkat meja pertemuan, mengoptimalkan bahan baku kayu bekas.

Rencananya akan dipasarkan, karena hasilnya bagus dan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan buatan tukang profesional.

“Nanti kalau ada yang minat beli, akan kita poles lagi, biar tampilannya lebih menarik, “ terangnya.

Ketrampilan menjadi tukang kayu dibimbing oleh seorang pegawai Rutan. Kebetulan ada seorang warga binaan yang juga memiliki kemampuan, diminta untuk ikut mengajari rekan-rekan lainnya.

“Jadi ada yang memang bisa nukang, tapi kebanyakan belum bisa sama sekali, “ kata Supriyanto.

Sedangkan khusus warga binaan kaum wanita diajari membuat kerajinan tas rajut. Pihak Rutan berharap ilmu ketrampilan yang diperoleh selama berada di dalam Rutan, kelak dapat bermanfaat ketika mereka sudah bebas dan kembali berbaur dengan masyarakat. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *