“Manfaatnya Tidak Bisa Langsung Dirasakan, Tapi Untuk Anak Cucu Kita Kelak…”
Penanaman pohon dalam kegiatan Rembang Nandur, dikemas pula melalui aktivitas seni budaya.
Penanaman pohon dalam kegiatan Rembang Nandur, dikemas pula melalui aktivitas seni budaya.

Bulu – Kegiatan Rembang Nandur ditargetkan mampu menjadi agenda rutin tahunan, dengan skala yang lebih besar.

Ahmad Rifán, Ketua Karang Taruna Kabupaten Rembang sekaligus ketua panitia Rembang Nandur, mengatakan kegiatan yang dipusatkan di lahan sebelah selatan Desa Sendangmulyo, Kecamatan Bulu dan berakhir pada hari Minggu (05/12), merupakan momentum tepat untuk mengoptimalkan kerja sama dari berbagai pihak.

Bahkan muncul usulan Rembang Nandur ditetapkan sebagai agenda nasional, sehingga membuka kemungkinan pegiat lingkungan luar negeri bisa turut hadir.

“Sebenarnya ada pegiat dari India dan Swedia yang tertarik ingin datang. Cuma karena masih situasi pandemi, sehingga masih sebatas lintas provinsi, Jateng dan Jatim, “ tuturnya, Senin (06/12).

Ia berharap tahun depan kegiatan serupa berpindah ke lokasi lain, karena semangat menanam bukan sekedar untuk kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan ekonomi dan sumber daya manusia (SDM).

“Konsep ekonomi, sopo nandur bakale ngunduh, ini sebenarnya terinspirasi oleh leluhur kita. Kemudian SDM dari berbagai kelompok bergerak dalam satu misi menanam 18 ribu bibit, ini luar biasa, “ tandasnya.

Rifán menambahkan selain menanam, pihaknya mengemas melalui kegiatan lain, seperti pentas budaya, pameran kuliner desa, bhakti sosial hingga workshop penanganan anak stunting. Baginya, segala potensi bisa dikerjakan, tanpa mengurangi tujuan dari kegiatan tersebut.

“Termasuk di sini kami juga menjual kaos Rembang Nandur, yang semua keuntungannya digunakan untuk menunjang kegiatan penanaman, “ kata Rifán.

Pria warga Kelurahan Magersari, Rembang ini menambahkan perawatan tanaman selama 5 tahun kedepan, tetap akan menjadi perhatian.

“Dukungan dari temen-temen relawan, pemerintah maupun pengusaha kita sampaikan terima kasih. Kita masih punya PR pendampingan perawatan tanaman, “ pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz mengungkapkan penanaman pohon memang tidak bisa langsung dirasakan manfaatnya, tapi baru terasa ketika 10 atau 20 tahun mendatang. Justru pemikiran untuk meninggalkan hal-hal baik pada anak cucu, merupakan gagasan yang patut didukung.

“Saya merespon positif, karena kegiatan ini ada nilai sosial, nilai ekonomi dan nilai ibadahnya. Nggak mikir manfaat sekarang, tapi untuk anak cucu kita kelak, “ ujar Hafidz.

Bupati mendorong jangan hanya berhenti di 1 titik, tetapi bisa terus dikembangkan ke lokasi-lokasi lain. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *