Melawan Dengan Cara Menanam, Langsung Mendekati Pusat Tambang (Rembang Nandur 5 Pilih Lemah Putih)
Lokasi penanaman pohon di Desa Lemah Putih Kecamatan Sedan, berdekatan dengan lokasi tambang.
Lokasi penanaman pohon di Desa Lemah Putih Kecamatan Sedan, berdekatan dengan lokasi tambang.

Sedan – Para pegiat lingkungan melakukan penanaman pohon di lokasi yang berdekatan dengan pusat penambangan batu di Desa Lemah Putih Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang.

Sasarannya, lahan seluas 2 Hektar, bekas tambang galian C. Dulu pernah ada korban meninggal dunia tenggelam di bekas kubangan tambang, sehingga tambang tidak dilanjutkan dan pemilik sepakat untuk direklamasi.

Tak hanya menanam, mereka juga mendirikan tenda camping, sekaligus menginap di area tersebut.

Achmad Rif’an, Ketua Umum Komunitas Rembang Bergerak menjelaskan pemilihan Lemah Putih, karena di kampung itu masih menjadi lokasi penambangan.

Di sisi lain, terdapat sumber air yang sangat dibutuhkan masyarakat setempat, utamanya pada musim kemarau.

“Ini menjadi kesepakatan temen-temen relawan, bahwa penanaman pohon akan lebih mengena jika dilakukan di lahan kritis,” tuturnya, Selasa (05 Mei 2026).

Menurutnya, penambahan pohon tegakan bisa menjadi salah satu solusi untuk mencegah bencana, sekaligus menjaga sumber air.

“Di bawah Gunung Brenjang itu ada mata air yang digunakan masyarakat. Kalau pohon tegakan semakin banyak, bisa menambah serapan karbon. Wilayah Kabupaten Rembang sangat membutuhkan serapan karbon dan peningkatan debit air. Ketika kemarau panjang, rawan terjadi kekeringan,” beber Rif’an.

Rif’an menambahkan meski penanaman pohon dan camping berdekatan dengan tambang batu, namun situasi tetap terkendali.

Justru ada beberapa pelaku tambang yang ikut bergabung menanam pohon.

“Walaupun belum semuanya, tapi beberapa pelaku sadar, kegiatan berbasis lingkungan hidup dan kehutanan ini, pendekatan terhadap kegiatan perusakan, agar bisa merubah pola pikir dan pola perilaku,” imbuhnya.

Pria warga Kelurahan Magersari, Rembang ini menyadari akan banyak tantangan.

Baginya, untuk menyadarkan pelaku tambang, bisa ditempuh melalui cara-cara persuasif, tanpa ada kesan menggurui.

“Lewat jalur seni budaya, ngopi santai dialog sarasehan. Yang penting, bisa memberikan dampak. Termasuk bagaimana ada warga sadar beli bibit sendiri, untuk ditanam,” tandas Rif’an.

Kalau terus mempertentangkan antara pegiat lingkungan dengan pengrusakan lingkungan, ia khawatir justru tidak muncul aksi-aksi nyata.

“Bahasa kasarnya mohon maaf, tanpa perlu banyak bacot ya. Kalau kita hanya teori mengungkapkan, malah menimbulkan kontra produktif dan rawan konflik horizontal. Namun tujuan kita merawat lingkungan tidak tercapai,” terangnya.

Ia berharap upaya yang dilakukan oleh pegiat lingkungan melalui kegiatan “Rembang Nandur 5” antara tanggal 2-3 Mei 2026 ini, bisa menular ke lokasi-lokasi lain.

Bagaimanapun untuk mewujudkan lingkungan yang hijau, butuh waktu panjang.

Maka pihaknya turut menggandeng generasi muda, anak-anak sekolah ikut terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, sesuai tema “Hijaukan Bumi, Selamatkan Generasi”.

Titik utama tujuannya adalah mereka bisa menjadi penerus untuk menggaungkan kampanye lingkungan hijau.

“Di Lemah Putih, kami menanam berbagai bibit, jenis tanaman tutupan tanah, tanaman penyimpan air, misal jenis beringin sungsang, grasak, panggang, mandirasari, kemudian tanaman buah, seperti durian, matoa, alpukat, kopi, kedondong dan jambu. Gerakan penanaman adalah bagian perlawanan. Teriakkan satu kata, Tanam!!,” pungkas Rif’an. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.