Meski Dipugar, Deretan Benda Peninggalan Asli Sunan Bonang Ini Masih Utuh Di Masjid
Suasana Masjid Jami’ Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.
Suasana Masjid Jami’ Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang.

Lasem – Masjid yang terletak di tanah agak tinggi sebelah selatan Desa Bonang, Kecamatan Lasem atau berjarak sekira 17 kilo meter dari pusat Kota Rembang, Jawa Tengah ini dulunya dibangun oleh Syekh Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Sunan Bonang merupakan salah satu Wali Songo yang dilahirkan pada tahun 1465 Masehi, putera dari Sunan Ampel. Beliau membuka Alas Kemuning, yang akhirnya dikenal menjadi cikal bakal Desa Bonang.

Diperkirakan pembangunan Masjid mendekati abad ke-XV, sehingga Masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Kabupaten Rembang. Posisi Masjid hanya berjarak 50 an Meter sebelah selatan ndalem pesantren Sunan Bonang mensyiarkan agama Islam, yang juga lokasi makam Sunan Bonang.

Pemerhati sejarah Lasem, Abdullah Hamid mengisahkan dulu ketika Sunan Bonang mendirikan bangunan itu, tidak langsung menyebut sebagai Masjid. Namun Sunan Bonang mengatakan Omah Gede atau rumah besar, supaya masyarakat tidak merasa canggung.

Langkah itu pertanda bahwa Sunan Bonang berdakwah agama Islam secara alami, tanpa memaksa penduduk setempat. Baru kemudian seiring dengan berjalannya waktu, Sunan Bonang menyampaikan bangunan tersebut adalah Masjid, untuk beribadah menyembah Allah SWT.

“Bukan kok langsung ini ada Masjid, ayo datang ke sini, nggak seperti itu. Beliau Sunan Bonang menyelami kebiasaan masyarakat dulu, “ ujarnya, Jum’at (16 April 2021).

Abdullah menilai bangunan Masjid ini merupakan peninggalan sejarah yang sangat penting, sebagai mata rantai perjalanan Islam di nusantara.

Pengurus Ta’mir Masjid Jami’ Sunan Bonang, Abdul Rouf menceritakan Masjid direnovasi sebanyak 2 kali, pada tahun 2013 dan 2016 lalu. Kali pertama serambi depan Masjid, setelah itu dilanjutkan bagian asli Masjid sisi barat.

Tembok aslinya dipertahankan, namun ditutup keramik supaya lebih kuat. Rouf membeberkan 4 tiang Masjid, mimbar khutbah, pintu, mustoqo menur adalah deretan benda-benda asli peninggalan masa Sunan Bonang. Selain itu juga ada sumur dan tempat wudhlu.

“Kalau ditotal biaya renovasi dan pemugaran ini, perkiraan habis Rp 2 – 3 Miliar, “ terangnya.

Sementara itu juru kunci Petilasan Sunan Bonang, Ahmad Lutfi Haqim mengatakan masyarakat setempat sangat menjaga peninggalan sejarah Sunan Bonang.

“Semangat sekali gotong royong, ketika ada renovasi Masjid ini, “ ujar Lutfi.

Tak hanya dari sisi fisik, tetapi jemaah juga giat memakmurkan Masjid Jami’ Sunan Bonang melalui kegiatan khataman Alqur’an tiap Kamis Legi. Kemudian setiap malam Jum’at, warga sekitar berziarah ke makam Sunan Bonang di sebelah utara Masjid.

“Alhamdulilah warga dari yang muda sampai sepuh masih istiqomah menjalankan kegiatan rutin. Kami ingin meneruskan semangat yang diwariskan oleh Sunan Bonang, “ tandasnya.

Nah..kalau anda lewat di jalur Pantura Semarang – Surabaya, pasti akan melintasi Desa Bonang, Kecamatan Lasem. Sempatkan waktu singgah untuk beriktiqaf atau sholat di Masjid Sunan Bonang ini. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *