“Tetap Dipertahankan Sampai Kapanpun, Demi Mengenang Sejarah Awal…”
Langgar atau Mushola gladak di Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem.
Langgar atau Mushola gladak di Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem.

Lasem – Ketika saya menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Kauman, Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, beragam keunikan langsung terasa.

Akulturasi budaya antara China dan Jawa begitu kental. Nampak dari arsitektur bangunan China di kediaman utama yang ditempati pengasuh Pondok Pesantren Kauman, Kiai Zaim Ahmad Ma’soem atau akrab disapa Gus Zaim. Deretan lampion berwarna merah berjajar di sejumlah sudut pondok pesantren, semakin memperkuat kekhasan budaya China.

Keunikan lain, berdiri bangunan langgar gladak atau mushola yang terbuat dari kayu di depan kediaman Gus Zaim. Siapa sangka, dulu bangunan tersebut adalah lumbung padi, ciri khas bangunan orang Jawa untuk menyimpan hasil panen, yang kini keberadaannya semakin langka.

Saya penasaran bagaimana ceritanya ? Gus Zaim mengisahkan pondoknya termasuk pesantren tradisional. Santri semula ikut tinggal di dalam rumah pengasuh. Lama kelamaan jumlah santri terus bertambah, sehingga membutuhkan tempat baru.

“Pondok tradisional itu kan nggak berdiri ujug-ujug (tiba-tiba-Red). Santri masih bertempat di rumah, rumah sudah penuh akhirnya dibuatkan kamar. Santri laki-laki di depan, perempuan di belakang. Infrastruktur mengikuti kebutuhan, bukan bangun dulu, baru cari murid, ndak, “ ungkapnya.

Untuk sebuah pondok pesantren, ia memprioritaskan bangunan Mushola dulu. Kala itu era tahun 2005 – 2006 silam, Gus Zaim blak-blakan tidak punya cukup uang, guna membangun Mushola permanen. Akhirnya ia berinisiatif mencari rumah gladak, akan difungsikan sebagai Mushola.

“Bukan kok karena ingin unik, antik nggak. Tapi ya karena nggak punya duwit banyak. Hanya ada Rp 10 Juta, kalau bangun permanen, daripada dapat pondasinya saja, otak berpikir kenapa nggak cari rumah gladak saja, “ kenang Gus Zaim.

Singkat cerita mendapatkan bangunan lumbung padi milik warga Desa Tulung, Kecamatan Pamotan. Pada awalnya dibanderol Rp 8,5 Juta, tapi begitu sang pemilik tahu akan dijadikan Mushola, ia merelakan cukup dihargai Rp 5,5 Juta saja.

“Yang Rp 3 Juta saya tak ikut nyumbang, begitu kata pemilik lumbung padi ini, “ imbuhnya.

Bangunan lumbung padi yang bisa dibongkar pasang itu, akhirnya berdiri di Pondok Pesantren Kauman Lasem. Menyusul kemudian, kamar-kamar santri juga berupa rumah gladak, berbentuk rumah panggung dengan ukuran rata-rata 3 x 4 Meter.

Meski saat ini bangunan pondok pesantren yang dipadukan dengan sekolah formal semakin berkembang, namun Mushola dan rumah gladak tetap dipertahankan.

Gus Zaim menegaskan selama masih kuat, tidak akan dirubah bentuknya. Biarlah bangunan itu menjadi goresan sejarah, telah melahirkan banyak santri dan kyai.

“Dalam rangka mengingat sejarah awalnya dulu. Selain itu barokahnya nempel dari situ, saya menyebut energi terpendam, “ kata Gus Zaim tersenyum.

Lebih-lebih untuk memperoleh rumah gladak, kini susahnya bukan main. Kalaupun ada, harganya sudah melambung tinggi.

“Kalau sudah masuk kolektror barang antik, harganya bisa ratusan juta, “ ungkapnya terkekeh.

Seorang santri Pondok Pesantren Kauman – Lasem dari Banyuwangi, Jawa Timur, Imam Rosyidi mengaku sudah 6 tahun nyantri. Ia merasakan betul, betapa Mushola gladak ini menjadi tempat paling favorit. Tak hanya untuk sholat berjamaah dan mengaji, tetapi juga biasa digunakan untuk diskusi-diskusi tentang Islam.

“Jadi tempat favorit. Kalau bangunan tembok permanen sudah biasa lah, ini kan masih kayu semua ya. Beda rasanya, “ ujar Imam.

Selama bulan suci Ramadhan, aktivitas santri di Pondok Pesantren Kauman – Lasem, tergolong cukup padat, karena berlangsung kegiatan posonan atau romadonan. Mulai habis Subuh, sudah ada pengajian sampai pukul 11.00 siang.

Seusai Dzuhur, pukul 13.00 Wib, santri mengaji lagi sampai Ashar. Rehat sholat Ashar, kemudian dilanjutkan mengaji hingga menjelang waktu berbuka puasa. Pada malam harinya setelah tarawih, kegiatan mengaji dibagi dalam 3 tingkatan.

Selain belajar kitab-kitab klasik, santri juga diwajibkan khataman Alqur’an maksimal hari ke-20 bulan suci Ramadhan, sebelum akhirnya mereka pulang ke daerah masing-masing, menikmati suasana Hari Raya Idul Fitri. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *