Sudah Lama Tak Ke Sana Menyambangi, Apa Kabar Gua Pasucen ?
Salah satu gua di Desa Pasucen, Kecamatan Gunem.
Salah satu gua di Desa Pasucen, Kecamatan Gunem.

Gunem – Tiga buah gua yang berada di lahan hutan Desa Pasucen, Kecamatan Gunem, kondisinya saat ini semakin memprihatinkan. Selain tidak terawat, tanah di dalam gua juga terdapat bekas kerukan. Diduga ada yang mengambilnya, untuk bahan campuran pupuk.

Hendarsun, seorang warga yang senang menjelajah alam mengatakan kondisi sekarang berbeda jauh dibandingkan era tahun ’80 – ’90 an.

Kala itu, ketiga gua tersebut, masing-masing Gua Manten, Gua Joglo dan Gua Jagung sering menjadi tempat rekreasi. Tidak hanya bagi masyarakat Kabupaten Rembang, tetapi juga dari luar daerah. Menurut Hendarsun, dulu lingkungan sekitar gua, hutannya lebat, sehingga menjadi daya tarik tersendiri.

Setelah penjarahan hutan pada era reformasi 1997 – 1998, mengakibatkan hutan gundul. Sejak itu, pamor gua di Desa Pasucen semakin menurun, bahkan jarang dijamah warga.

“Begitu gundul, jadi nggak rindang lagi. Tapi kalau menyusuri ke dalam gua, sebenarnya stalagtit stalagmit nya masih bagus. Akses sepeda motor, juga bisa masuk sampai depan gua, “ tutur pria warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem ini.

Humas Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan, Ismartoyo mengakui semenjak penjarahan hutan, Gua Pasucen menjadi sepi pengunjung. Meski demikian pihaknya tetap berupaya meningkatkan penghijauan di sekitar gua.

Ia turut mengimbau Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), tokoh pemuda dan pemerintah desa setempat bersama-sama melestarikan penghijauan. Kepedulian semacam itu menurutnya masih kurang maksimal.

Jika penghijauan berhasil, Ismartoyo menilai tempat tersebut potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam dan bumi perkemahan.

“Setiap tahun kita buatkan rencana teknik tahunan, untuk menghijaukan kembali kawasan sekitar gua. Dari pihak LMDH dan pemerintah desa setempat pernah punya rencana buat destinasi wisata. Kami sarankan untuk fokus ke penghijauan dulu, karena lokasi itu termasuk hutan alam sekunder yang harus kita jaga kelestariannya. Kedepan kalau mau ada kerja sama, bagi kami nggak masalah, “ kata Ismartoyo.

Ismartoyo menambahkan melalui penghijauan pula diharapkan mampu menambah sumber air di kawasan itu.

“Minimal warga jangan sampai merusak gua, siapa tahu kelak bisa diberdayakan lagi, “ pungkasnya. (Musyafa Musa/ Didik Diantoro).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *