Simulasi Pembelajaran Tatap Muka Dimulai, PJS Bupati Sebut Bahaya Jika Siswa Masih Lakukan Hal Ini
Suasana simulasi pembelajaran tatap muka di SMP N I Pamotan, Senin (05 Oktober 2020).
Suasana simulasi pembelajaran tatap muka di SMP N I Pamotan, Senin (05 Oktober 2020).

Rembang – Pemerintah Kabupaten Rembang, mulai hari Senin (05 Oktober 2020) serentak menggelar simulasi pembelajaran tatap muka di 4 SMP Negeri.

Keempat SMP tersebut meliputi SMP N I Sumber, SMP N I Pamotan, SMP N I Kragan dan SMP N I Sale. Wilayah yang boleh simulasi pembelajaran tatap muka, jika kondisinya sudah zona hijau. Apabila masih kuning, orange atau bahkan zona merah, belum diperkenankan.

Pejabat Sementara (PJS) Bupati Rembang, Imam Maskur menjelaskan simulasi diperlukan, untuk memastikan kesiapan sekolah, siswa maupun orang tua siswa.

“Jangan langsung digelar tatap muka, tapi perlu disimulasikan atau latihan dulu. Jangan sampai ketika sarana pra sarana sekolah sudah siap, ternyata anaknya belum siap. Ini SMP, yang SMA sederajat kewenangan Provinsi Jawa Tengah, sudah ada simulasi, tapi baru untuk beberapa daerah, “ ujar Imam.

Ia mencontohkan apabila siswa berangkat maupun pulang sekolah masih menggunakan angkutan umum, menurutnya cukup riskan terhadap penularan Covid-19. Solusinya, harus diantar jemput oleh orang tua masing-masing.

“Ketika masyarakat masih menggerakkan anak-anaknya pakai angkutan umum, ini bahaya. Makanya perlu kita pikirkan bersama-sama, “ tandasnya.

Imam menyadari orang tua murid banyak yang menghendaki pembelajaran tatap muka di sekolah lekas dimulai. Namun harus dipersiapkan secara matang, agar tidak memicu kluster baru penyebaran Covid-19.

“Pantauan kami tadi, anak belajar di sekolah hanya 2 jam, ada social distancing. Kalau orang tua masih khawatir, belajar daring juga tidak masalah, tetap difasilitasi sekolah, “ urai PJS Bupati.

Salah satu orang tua murid di Desa Pamotan, Riyanto sangat setuju apabila pembelajaran tatap muka di sekolah dibuka kembali, setelah terhenti sejak bulan Maret lalu. Ia beralasan murid akan semakin ketinggalan materi pelajaran, jika hanya mengandalkan belajar online. Apalagi kendala sarana HP dan kuota internet, masih sering dirasakan.

Menurut Riyanto, selama belajar di sekolah menerapkan standar protokol kesehatan dengan ketat, baginya tidak masalah.

“Belajar di rumah repotnya pakai aplikasi HP. Ya kalau punya HP, kalau nggak. Anak 1 mungkin nggak kerasa, kasihan yang anaknya 2 atau 3 belajar online semua. Ujung-ujungnya orang tua yang kerepotan menangani, padahal kita juga harus kerja, “ ungkap Riyanto.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Rembang, Mardi menyatakan pihaknya mengecek langsung pelaksanaan simulasi pembelajaran tatap muka bersama Dinas Kesehatan.

Mardi memperinci ada sekolah yang melakukan penggiliran masuk siswa di hari yang sama, namun ada pula yang memberlakukan penggiliran di hari berikutnya.

“Prinsipnya supaya satu sama lain bisa jaga jarak, tinggal kebijakan sekolah masing-masing, menyesuaikan kapasitas ruang kelas dan jumlah murid, “ terangnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *