Kampanyekan Cegah Covid-19, Suara Junia Rina Semakin Moncer
Junia Rina saat masuk kerja di kantor Setda Rembang, (27/04). Junia Rina merupakan pengisi suara himbauan kewaspadaan Covid-19 di lampu pengatur lalu lintas.
Junia Rina saat masuk kerja di kantor Setda Rembang, (27/04). Junia Rina merupakan pengisi suara himbauan kewaspadaan Covid-19 di lampu pengatur lalu lintas.

Rembang – Tiap kali anda berhenti di lampu traffic light atau warga kerap menyebutnya sebagai lampu bangjo di Kabupaten Rembang, mungkin suara wanita ini sudah tidak asing lagi di telinga anda. Suara yang selalu mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker, cuci tangan, jaga jarak dan usahakan berada di rumah, guna mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Sebenarnya siapa pemilik suara tersebut ? Kali pertama saya mengira suara wanita yang ada di balik pengeras suara pada tiang traffic light adalah seorang anggota Polwan. Ternyata prediksi saya meleset.

Nah..dari hasil penelusuran ke kantor Dinas Perhubungan dan Humas Pemkab Rembang, saya baru bisa mengetahui sang pemilik suara. Namanya Junia Rina, salah satu staf Bagian Protokol Dan Komunikasi Pimpinan Daerah Setda Rembang.

Wanita berusia 37 tahun, warga Jogotami Kelurahan Tanjungsari-Rembang ini menceritakan setelah Kabupaten Rembang ditetapkan berstatus kejadian luar biasa (KLB), sosialisasi pencegahan Covid-19 semakin digencarkan.

Ia kala itu menerima informasi dari rekan kerjanya, mendapatkan tugas untuk rekaman suara yang berisi sosialisasi Covid-19, nantinya akan dipasang di traffic light. Kebetulan orang yang semula akan ditunjuk rekaman suara sedang berhalangan, karena mengalami gangguan batuk, sehingga dicarilah figur lain dan akhirnya tugas itu jatuh kepada dirinya.

Sempat latihan di rumah, kemudian langsung rekaman ke studio radio yang dikelola Pemkab Rembang. Karena baru kali pertama, sehingga take vocal diulang sampai berkali-kali, agar mendapatkan hasil terbaik.

“Jadi nggak cuman sekali karena baru sekali rekaman suara seperti itu. Dicoba lagi-dicoba lagi, mungkin sampai 10 kali, karena harus ada penekanan-penekanan, biar masyarakat yang dengar paham, “ ujarnya, Senin (27 April 2020).

Wanita yang akrab disapa Nia ini ingin tertawa saat kebetulan berhenti di lampu pengatur lalu lintas, mendengar suaranya sendiri. Bahkan sang suami sempat tidak menyadari himbauan yang terdengar cukup keras itu adalah suaranya. Tapi anaknya justru bisa mengenali.

“Yang bisa menghafal anak. Mah ini suaranya mamah ya, saya jawab iya, “ imbuh Nia tertawa.

Satu sisi ia merasa senang, bisa ikut membantu kampanye pencegahan Covid-19. Namun di sisi lain ia tak ingin masyarakat mengetahui bahwa rekaman suara yang diputar berulang-ulang merupakan suaranya, karena bukan sesuatu yang penting.

Terlepas dari semua itu, Nia berharap pandemi Covid-19 dapat segera berlalu. Tentu melalui usaha-usaha sebagaimana anjuran pemerintah, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun, menggunakan masker dan usahakan tetap di rumah kalau tidak ada keperluan mendesak.

“Nggak penting siapa yang mengeluarkan suara itu, tapi yang paling pokok tujuan Pemkab Rembang dipahami masyarakat. Soalnya masih banyak yang belum sadar untuk mengenakan masker. Pada dasarnya semua demi kepentingan diri sendiri maupun masyarakat. Dengan patuh sama pemerintah, artinya kita bisa memprotek dari Covid-19, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *