“Anak Saya Sempat Terkubur Reruntuhan Bangunan…”
Korban luka akibat tertimpa saluran udara tegangan tinggi PLN, menjalani perawatan di rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang, Rabu (26/02).
Korban luka akibat tertimpa saluran udara tegangan tinggi PLN, menjalani perawatan di rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang, Rabu (26/02).

Rembang – Hingga Rabu sore (26 Februari 2020), korban robohnya tower listrik saluran udara tegangan tinggi (SUTT) masih menjalani perawatan intensif di ruang Cempaka Rumah Sakit dr. R. Soetrasno Rembang. Lalu apa yang diharapkan oleh pihak keluarga korban, setelah musibah tersebut ?

Korban yang masih dirawat yakni Rasesa Purwita Trikustarina (17 tahun), warga Desa Kabongan Kidul, saat ini tercatat masih duduk di bangku kelas XII SMA Santa Maria Rembang.

Kepala Bidang Pengembangan Dan Informasi Rumah Sakit dr. R Soetrasno Rembang, Nurdin Fahrudi mengatakan semula ada 2 orang pasien, kakak beradik. Namun sang adik yang berusia 9 tahun sudah diperbolehkan rawat jalan, karena mengalami luka ringan.

Sedangkan kakaknya, Rasesa Purwita Trikustarina dalam keadaan sadar. Tapi masih perlu diobservasi oleh tim medis, akibat luka di bagian dahi dan memar pada tangan.

“1 rawat jalan, 1 lagi rawat inap. Lukanya di bagian dahi dan pergelangan tangan. Kita masih lakukan perawatan, “ ujarnya.

Sementara itu, ibu pasien, Williyanti menceritakan saat kejadian ia tidur bersama anak keduanya di dalam kamar, sedangkan putri pertamanya, Rasesa Purwita Trikustarina tidur di kamar terpisah. Begitu rumah dihantam tower ambruk, dirinya kali pertama menyelamatkan anak-anaknya.

Saat itu dalam kondisi gelap gulita, putrinya sudah terkubur oleh reruntuhan puing-puing bangunan. Ia membersihkan bongkahan batu bata, kemudian menarik anak pertamanya yang biasa dipanggil Rina. Selanjutnya bergegas keluar rumah, meski dalam kondisi jalan sempoyongan.

“Anak saya laki-laki kan tidur sama saya, tak bilangi ayo kita lihat kakak di dalam kamar sebelah. Ternyata kondisinya sudah terkubur sama tembok yang jatuh. Saya bersihkan dulu, yang penting bisa bernafas. Lalu kita keluar rumah. Jalannya anak saya ya sempoyongan, soalnya sudah berdarah, “ tutur Williyanti.

Williyanti menambahkan pasca rumahnya rusak parah, ia sekeluarga berencana mencari rumah kontrakan, sambil menunggu perbaikan rumah. Wanita paruh baya ini berharap PLN menanggung biaya pengobatan anaknya sampai pulih, sekaligus memperbaiki kerusakan rumah.

“Anak saya ini kan mau ujian. Banyak yang harus dipersiapkan, ujian terus kuliah. Soal rumah, kita bisa cari kontrakan atau menumpang di rumah saudara, “ imbuhnya lirih.

Pasca kejadian ambruknya saluran udara tegangan tinggi, banyak rekan-rekan pelajar SMA Santa Maria yang menjenguk Rasesa Purwita Trikustarina di rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang. Selain rekan korban, perwakilan PLN dan Kapolres Rembang, AKBP Dolly A. Primanto juga tampak datang menjenguk korban. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *