Cara Unik Telgawah, Layak Ditiru Desa Lain
Stiker yang terpasang di rumah warga Desa Telgawah Kecamatan Gunem.
Stiker yang terpasang di rumah warga Desa Telgawah Kecamatan Gunem.

Gunem – Pihak Desa Telgawah, Kecamatan Gunem memasang labelisasi di rumah-rumah warga yang menerima bantuan sosial dari pemerintah, berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Labelisasi berbentuk stiker berukuran agak besar dipasang di dekat pintu rumah. Isi kalimatnya tergolong cukup ngeri, yakni “Saya Benar Benar Keluarga Miskin Yang Layak Menerima PKH/BPNT”. Kemudian di bawahnya dilanjutkan dengan kalimat “Ya Allah Sejahterakanlah Saudara Kami Yang Miskin Ini. Tapi Apabila Mereka Berpura-pura Miskin, Maka Azab-Mu Amatlah Pedih”.

Stiker tersebut mulai dipasang pada periode bulan April sampai dengan Mei 2019. Berawal dari kesulitan pihak desa tidak bisa menghapus penerima bantuan sosial yang sudah mampu. Dengan cara itu diharapkan keluarga mampu merasa malu dan mau mundur sendirinya.

Salah satu penerima PKH di Desa Telgawah, Kecamatan Gunem, Ex Mai Parmiatun mengaku patuh dengan arahan pihak desa, untuk menempelkan stiker tersebut. Ia tidak malu, karena memang merasa sebagai keluarga miskin dan masih membutuhkan uluran tangan pemerintah. Apalagi pekerjaannya sebagai buruh tani, dengan penghasilan tidak menentu.

Setiap 3 bulan sekali, dirinya menerima dana PKH sebesar Rp 1 Juta. Uang itu untuk keperluan merawat lanjut usia dan biaya sekolah anaknya di SMK.

“Dikira cukup ya nggak cukup, saya nggak punya penghasilan apa-apa. Kalau ada pekerjaan di sawah baru bisa kerja. Kalau nggak, ya di rumah saja. Jujur, bantuan dari pemerintah ini sangat membantu kami, “ kata Parmiatun.

Sementara itu, salah satu perangkat desa Telgawah, Suroso berharap melalui penempelan stiker di rumah penerima PKH dan BPNT, bantuan sosial dari pemerintah bisa tepat sasaran. Terkait tulisan kalimat Azab Pedih, baginya sebatas menjadi rambu-rambu. Saat dulu rapat, warga tidak ada yang protes. Stiker dipasang secara suka rela, tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

“Kalau warga bener-bener masih membutuhkan dana bantuan semacam itu, kenapa mesti malu ada stiker. Kalau nggak butuh, ya nggak usah masang stiker. Kita hanya ingin bantuan tepat sasaran dan nantinya angka kemiskinan di kampung kami menurun, “ beber Suroso.

Di Desa Telgawah terdapat 54 rumah yang ditempeli stiker. Masing-masing 34 rumah penerima Bantuan Pangan Non Tunai dan 20 rumah penerima PKH. Belakangan penerima PKH tinggal 16, karena 2 mengundurkan diri dan 2 lainnya meninggal dunia.

Khusus di Kecamatan Gunem, tidak hanya Desa Telgawah yang memasang stiker “Azab Pedih”, tetapi Desa Demaan juga melakukan hal yang sama. Cara dua desa tersebut lebih ekstrim, ketimbang program labelisasi di Kecamatan Pamotan yang hanya menuliskan Keluarga Miskin Penerima Bantuan PKH. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *