Lebaran Ketupat : Salah Satu Penghasil Terbesar Janur, Desa Ini Jagonya
Warga membeli janur di Desa Bamban. (Foto atas) Suasana kebun kelapa di Desa Bamban, Kecamatan Pamotan.
Warga membeli janur di Desa Bamban. (Foto atas) Suasana kebun kelapa di Desa Bamban, Kecamatan Pamotan.

Pamotan – Tradisi Lebaran ketupat seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri masih terus dilestarikan masyarakat Kabupaten Rembang. Tapi tahukah anda, desa mana yang menjadi daerah penyuplai terbesar janur kuning untuk bahan membuat ketupat ?

Desa Bamban Kecamatan Pamotan salah satunya. Kampung yang terletak di sebelah selatan pusat ibu kota kecamatan Pamotan tersebut, selama ini dikenal sebagai pusat pohon kelapa, sekaligus penghasil janur kuning.

Kepala Desa Bamban, Kecamatan Pamotan, Sudadi mengakui setelah Lebaran, desanya memang “diserbu” banyak warga dari luar kampung, ingin mencari janur untuk membuat ketupat. Hal itu sudah menjadi pemandangan rutin tiap tahun. Kebetulan harga janur kuning dari tahun ke tahun semakin mahal. Tiap 100 lembar janur kuning yang dulunya dijual Rp 7 ribu, sekarang rata-rata sudah menembus Rp 20 ribu. Tradisi musiman tersebut, berimbas pada peningkatan ekonomi warganya.

“Ada ribuan pohon kelapa di desa kami. Jujur saja, tradisi kupatan dapat membantu perekonomian masyarakat. Apalagi kenaikan harga janur dari tahun ke tahun cukup signifikan. Ini tambah ramai di desa Bamban, luar biasa pokoknya, “ beber Sudadi.

Sudadi menambahkan kenaikan harga janur kuning, lantaran dipicu antara permintaan pembeli dengan stok belum sebanding. Ia beralasan serangan hama pemakan daun kelapa merajalela, sehingga persediaan janur kuning yang dihasilkan menurun sampai 25 %, ketimbang periode tahun lalu.

Hama menimbulkan daun berlubang, padahal untuk keperluan membuat ketupat, kondisi janur harus utuh.

“Hama daun kelapa ini biasa kami sebut namanya penggaret, bentuknya kecil. Berbeda dengan hama wangwung, yang agak besar-besar. Penggaret itu sudah memakan saat janur kuning mulai muncul. Petani sendiri masih kesulitan mengatasi, “ imbuhnya.

Sementara itu, Ismawati, seorang warga Kelurahan Leteh, Rembang mengungkapkan tiap tiba Lebaran Ketupat, dirinya rutin membeli 50 an janur, untuk membuat ketupat. Berapapun harga janur tetap dibeli, demi melestarikan sebuah tradisi.

“Kalau ada ketupat, makan bareng-bareng sama keluarga kan asyik. Saya sendiri juga nggak tahu asal usul janur itu dari mana. Tak pikir dari luar daerah, tapi kata pedagangnya ternyata beberapa desa di Kabupaten Rembang juga ikut memasok ke pasar, “ ujarnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *