
Sedan – Pemuda yang satu ini dikenal ulet. Tidak hanya dalam mencari peluang usaha, tetapi juga tangguh memperjuangkan aspirasi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, yang pernah terganggu oleh aktivitas tambang liar.
Kisah pemuda ini kami hadirkan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Rabu 28 Oktober 2026.
Namanya Amir Ahmad, berusia 25 tahun, tinggal di Dusun Sumberagung (Galanter), Desa Sambiroto Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, sebuah dusun pelosok, di ujung selatan Kecamatan Sedan.
Sehari-hari Amir menggeluti bisnis budidaya ikan air tawar, terutama lele. Ia memiliki kolam terpal dan beton yang mampu menampung 50 ribu ekor ikan lele.
“Terpal ada 16 dan beton 4. Kalau isi semua ya ada 50 ribu ekor mas,” ungkapnya, Rabu (28 Oktober 2026).
Lulusan MA Riyadlotut Thalabah Sedan dan Fakultas Komunikasi Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini memilih pengembangan ikan lele, karena harganya relatif stabil. Sekarang kisaran antara Rp 22.00 – 25.000 per Kg.
“Kalau tengkulak, harganya 22 Ribu. Kalau warga biasa, 25 Ribu. Ada yang diambil langsung ke sini. Ada juga yang kita setor, ya sekitar Kecamatan Sedan, Pamotan dan Kecamatan Sarang,” imbuh Amir.
Yang menjadi kendala adalah kenaikan harga pakan ikan, karena ia murni menggunakan pakan pelet. Harga pelet melambung tinggi, dari Rp 365 Ribu menjadi Rp 460 Ribu per sak/karung isi 30 Kg.
“Kenaikan harga pelet tidak berdampak pada harga jual ikan, jadi kita pintar-pintarnya menyiasati saja,” imbuh Amir.
Pegiat Lingkungan
Sosok Amir Ahmad juga pernah terlibat mengkoordinir warga di sekitar kampungnya, Dusun Sumberagung Desa Sambiroto, menolak kegiatan penambangan liar yang dianggap merusak jalan desa.
Amir mengakui sering menghadapi tekanan dan ancaman. Namun ia merasa tidak sendiri, karena semata-mata memperjuangkan keinginan masyarakat sekitar, agar hilir mudik truk tambang tidak berdampak buruk pada lingkungan dan akses jalan.
Hingga akhirnya truk maupun alat berat tidak lagi melintas di jalan Dusun Sumberagung, setelah melalui Musyawarah Desa (Musdes).
“Itu kan keluh kesah warga, jalan rusak. Kalau ada hujan, lumpurnya banyak dan membahayakan. Sampai ada gerakan warga, lalu stop. Kalau tekanan ya banyak mas, ada yang geruduk ke rumah, wong namanya pro dan kontra. Saya berani, karena warga juga kompak, untuk kebaikan kedepan,” tandasnya.
Bagi Amir, peringatan Hari Sumpah Pemuda memiliki arti bagaimana pemuda bisa memberikan manfaat untuk keluarga dan lingkungan sekitar. Termasuk berani menyuarakan ketidakadilan.
“Banyak cara yang bisa dilakukan, apalagi di era digital seperti sekarang,” pungkas Amir. (Musyafa Musa).
