
Rembang – Pasca kejadian keracunan akibat makan bergizi gratis (MBG), sikap siswa dan guru maupun staf di SMP N 5 Rembang terbelah, antara ingin tetap menerima atau menolak MBG.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Rembang mengatakan setelah kejadian luar biasa (KLB) tersebut, diedarkan selebaran jajak pendapat (polling), untuk meminta tanggapan dari warga sekolah.
“Karena prosedur Badan Gizi Nasional (BGN) begitu. Manakala ada KLB, kemudian mau running MBG lagi, sebelumnya didahului dengan meminta persetujuan dari penerima manfaat, ada survei,” terangnya, Rabu (02 September 2026).
Khusus di SMP N 5 Rembang yang kala itu menjadi sekolah dengan jumlah korban keracunan terbanyak, hasil polling menyatakan yang menolak MBG, guru dan staf sebanyak 4 orang, sedangkan siswa 313 anak.
Sedangkan yang setuju menerima MBG lagi, guru dan staf 51 orang, termasuk kepala sekolah, serta 396 siswa.
Ngadiyono menegaskan tidak ada unsur paksaan dalam pengisian data selebaran itu.
“Jadi secara sukarela, mereka bebas mengisi mau menerima atau menolak MBG. Nggak ada paksaan dari pihak mana pun, sehingga yang menerima maupun menolak, sama-sama terfasilitasi,” tandas Ngadiyono yang juga ditunjuk menjadi person in charge (PIC) MBG tingkat SMP ini.
Ngadiyono menambahkan dapur SPPG Mondoteko 3 sebagai pihak penyalur, saat ini tutup, sehingga ketika nanti MBG disalurkan, akan ditangani oleh dapur lain.
Informasi awal akan beralih ke SPPG Sumberjo Rembang. Namun untuk kepastian, informasi Korwil MBG menyebut masih harus menunggu nota dinas dari BGN.
“Sampai hari ini belum turun, masih menunggu nota dinas BGN,” imbuhnya.
Ia juga sempat menanyakan, bagaimana kalau siswa yang sekarang menolak, kemudian nanti berubah sikap mau menerima, dijawab tidak masalah.
“Bisa, bisa, nggak apa-apa. Sekarang menolak, besok-besok kok mau nerima lagi, dapat diakomodir,” kata Ngadiyono.
Sejumlah murid yang menolak MBG mengaku masih trauma, ketika merasakan perut mual, muntah dan diare berulang kali, usai makan MBG dengan menu nasi liwet, telur dadar balado, tempe kering, susu dan semangka, 04 Agustus 2026 lalu.
“Trauma mas, trauma, aduh nggak mau-mau lagi. Pas di Medsos atau ada tayangan MBG di TV, lihat omprengnya saja, sudah kayak jijik gitu. Mulai sekarang mending nggak MBG-MBG nan,” ungkap seorang siswa.
“Biar meringankan beban keuangan negara dan bisa dialihkan untuk kebutuhan yang lain. Daripada nanti menu dikorupsi, mending nggak sekalian. Lagipula kita nggak tahu higienitas makanan, lawan barang nggak kelihatan lho sekarang, bakteri, nyawa taruhannya kok. Mencegah sebelum kejadian,” timpal orang tuanya.
Sedangkan beberapa siswa yang ingin tetap menerima MBG berdalih daripada tidak menerima apa-apa, lebih baik dapat MBG.
“Terutama susu dan buahnya, itu yang kita ambil. Semoga sich nggak ada keracunan lagi,” ujar salah satu siswi.
“Tapi kalau misal disuruh milih, apakah MBG atau pemerintah kasih uang tunai untuk bekal makanan dari ibu, ya tetap pilih bekal ibu. Ini kan mending nggak dapet apa-apa, pilih masih nerima MBG aja,” imbuh siswa lain. (Musyafa Musa).

