
Rembang – Hingga awal tahun ajaran baru, tenaga guru maupun tenaga kependidikan Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Kaliombo Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, belum siap.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi menjelaskan guru dan tenaga kependidikan Sekolah Rakyat masih dalam proses seleksi oleh Kementerian Sosial.
Hasil rekrutmen itu, perkiraan baru siap pada pertengahan bulan September atau awal bulan Oktober mendatang, sehingga ketika Sekolah Rakyat mulai beroperasi pada hari Jumat 31 Juli 2026, untuk sementara akan diisi oleh guru tamu.
“Kita nunggu seleksi di tingkat pusat, masih tes macem-macem itu to. Makanya kabupaten/kota diperintahkan buat tim transisi. Sampai dengan September, kita harus menyediakan guru tamu. Intinya itu,” tuturnya.
Kementerian Sosial sudah menggariskan ketentuan, guru tamu yang harus disiapkan oleh daerah minimal sebanyak 37 orang, untuk jenjang SD, SMP dan SMA.
Nurdin menambahkan penyiapan guru tamu ini ditangani oleh tim transisi Sekolah Rakyat.
Seleksi guru tamu SD – SMP melibatkan Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Rembang, sedangkan jenjang SMA menggandeng Dinas Pendidikan Jawa Tengah maupun Kementerian Agama. Menurut informasi, mereka (guru tamu) berasal dari sekolah-sekolah di Kabupaten Rembang sendiri.
“Tim transisi untuk membantu kesiapan, sampai nanti benar-benar beralih ke Sekolah rakyat. Pada awal Sekolah Rakyat, belum langsung pembelajaran seperti sekolah reguler. Penyebutannya matrikulasi atau semacam pembekalan awal,” kata Nurdin.
Khusus untuk Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi di Kabupaten Rembang, menurut Nurdin sudah ada, kebetulan berasal dari Kabupaten Grobogan.
“Kalau Kepala Sekolah sudah ada, definitif. Namanya pak Wahyu, dari Grobogan,” pungkasnya.
Rencananya siswa Sekolah Rakyat akan mulai masuk pada hari Jum’at 31 Juli 2026. Jenjang SD sebanyak 5 anak (kurang jauh dari target 90 anak_Red), SMP 90 anak dan SMA 90 anak. Khusus SMA, ada tambahan 30 anak dari Kabupaten Blora, karena di sana belum memiliki gedung sendiri.
Mereka berasal dari keluarga tidak mampu kategori Desil 1-2, karena sekolah dengan sistem asrama ini, tidak sembarangan siswa bisa mendaftar. (Musyafa Musa).

