
Rembang – Pengelola hutan bakau di Dusun Kaliuntu, Desa Pasar Banggi, Rembang memastikan tidak ada penutupan kawasan destinasi wisata tersebut.
Ngajiman, penjaga hutan bakau Desa Pasar Banggi mengatakan operasional masih buka seperti hari-hari biasa.
Namun ia mengakui terjadi penurunan jumlah pengunjung, dalam kurun waktu 3 tahun terakhir.
“Pengunjung memang menurun. Biasanya, kalau dulu 1 bulan itu mencapai ribuan orang, sekarang tinggal ratusan,” tuturnya, Senin (29 Juni 2026).
Hal itu diperparah oleh adanya orang dari luar daerah yang membuat content, lebih menyoroti tentang kerusakan jembatan hutan bakau, seakan-akan kondisi obyek wisata membahayakan dan mengerikan.
Padahal secara umum, sebagian besar jembatan yang membelah hutan bakau, masih layak untuk lalu lalang para pengunjung.
“Waktu itu sang content creator lebih menonjolkan yang rusak-rusak saja, nggak menyampaikan obyektif secara keseluruhan. Jujur saja, sangat merugikan kami. Jembatan rusak tersebut, ya terpaksa kita bongkar,” imbuh pria yang akrab disapa Mbah Jan ini.
Ngajiman menimpali perbaikan bantalan kayu jembatan yang keropos, paling mendominasi.
Selama ini diambilkan melalui anggaran yang terkumpul dari uang parkir kendaraan dan sumbangan pengunjung di kotak donasi, dekat pintu masuk.
“Parkir sepeda motor Rp 5 Ribu, mobil Rp 10 Ribu. Hasilnya dipakai untuk perawatan papan-papan kayu jembatan yang sudah rapuh. Tiap hari sulam 2 atau 3 kayu. Meski penghasilan nggak menentu, tapi hutan bakau masih aktif,” tandasnya.
Pihaknya berharap ada uluran tangan dari pemerintah, supaya hutan bakau kedepan tetap berkembang dan konsisten menjadi salah satu tujuan wisata.
Mengingat, keberadaan hutan bakau juga sangat bermanfaat untuk menunjang ekosistem laut dan pelindung alami dari gempuran abrasi.
“Pak Bupati sudah pernah ke sini dan janjinya beliau ingin bantu untuk perawatan,” pungkas Mbah Man.
Sudah tak terhitung berapa kali hutan bakau Desa Pasar Banggi menjadi lokasi penelitian mahasiswa dari berbagai kampus, karena lokasi seperti itu di pesisir pantai utara Jawa termasuk langka.
Apalagi hutan bakau kini semakin lebat dan bertambah luas. Total luasnya mencapai 45,36 Hektar, dengan rincian Blok Pasar Banggi 36,5 Hektar dan Blok Tireman 8,8 Hektar.
Sementara itu, salah satu pengunjung dari Kabupaten Blora, Setiawan mengungkapkan hutan bakau Desa Pasar Banggi termasuk tempat favorit.
“Untuk suasana sejuk, rindang dan tenang, ya hutan bakau ini yang sering saya tuju mas. Sudah beberapa kali. Usul saya, jembatan bisa diperluas. Sudah ada gardu pandangnya, bagus itu. Kelak tinggal melengkapi, ada tambahan apa lagi, biar semakin menarik,” ujarnya. (Musyafa Musa).

