
Rembang – Seorang anak buruh pembuat terasi di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang berhasil meraih gelar Doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Namanya, Mamluatur Rahmah, wanita yang tumbuh dari keluarga sederhana di pinggir pesisir pantai utara Desa Bonang. Gelar Doktor tersebut diperoleh, berkat Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama.
Rahmah, demikian panggilan akrabnya mengaku tidak pernah menyangka akan menyelesaikan jenjang pendidikan S3, karena kondisi ekonomi keluarganya.
Namun kerja keras orang tua, membuatnya tergerak untuk semakin bersemangat menuntaskan cita-citanya.
“Anak seorang buruh, mungkin S3 hanya sebuah angan-angan yang terlalu muluk-muluk. Alhamdulillah semua dimudahkan. Tetesan keringat orang tua yang membakar semangat saya,” terangnya.
Rahmah mengisahkan perjuangan sang ibu, sebagai pendorong untuk menyelesaikan disertasi.
“Setiap kali saya merasa lelah menulis disertasi atau pusing dengan metodologi yang rumit, saya selalu membayangkan tangan ibu saya. Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya,” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca.
Lebih lanjut Rahmah menyebut banyak kalangan yang menganggap percuma wanita menempuh pendidikan tinggi, karena ujung-ujungnya harus sibuk di dapur, mengurus rumah tangga.
Ia ingin membuktikan bahwa perempuan, dari latar belakang ekonomi apa pun, berhak memiliki intelektualitas.
“Banyak yang bilang, ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujungnya di dapur juga. Saya nggak boleh larut dengan rasa skeptis itu. Jangan membatasi mimpi. Program BIB Kemenag memberikan saya kesempatan itu. Beasiswa ini bukan hanya soal uang SPP, tapi soal martabat dan kepercayaan bahwa negara hadir untuk anak-anak seperti saya,” tandas istri dari Abdus Salam ini.
Dr. Mamluatur Rahmah kembali ke dunia akademik dan lingkungan masyarakat dengan identitas baru. Bukan lagi sekadar anak buruh yang sering dipandang sebelah mata, melainkan sebagai intelektual yang siap memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa. (Musyafa Musa).

