Video Maaf Dikirim Dari Morowali, Disambut Ketulusan Hati Cahyo Awwali (Anak Tangguh Dari Rembang)
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Avendi Bambang Yulianto. (Foto atas) CA sehari-hari tinggal bersama neneknya.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK N 1 Rembang, Avendi Bambang Yulianto. (Foto atas) Cahyo Awwali sehari-hari tinggal bersama neneknya.

Rembang – Cahyo Awwali (17 tahun), penyandang disabilitas warga Dusun Gobog Desa Gunungsari Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang menyatakan sudah memaafkan sosok oknum berseragam ASN yang menirukan gaya bicaranya dan diduga mengarah pada bullying (perundungan).

Cahyo menyebut sejak awal sudah memaafkan yang bersangkutan. Ia tidak merasa sakit hati.

“Saya sudah maafin bapaknya kok,” ungkapnya, Senin (22 Desember 2025).

Justru Cahyo merasa khawatir terhadap kondisi oknum tersebut, karena mendapatkan gelombang komentar negatif dari warganet. Apalagi banyak yang memposting ulang tayangan live tiktok itu.

“Saya kurang nyaman, karena banyak yang mosting. Saya juga agak trauma mau live lagi, karena mikir ke bapaknya (oknum), kan masih muncul komentar-komentar yang menghujat bapak tersebut,” kata Cahyo.

Perlakuan bullying kepada dirinya, sebelumnya beberapa kali pernah terjadi di media sosial. Selama ini ia sebatas mendiamkan saja.

Menurutnya, dari kejadian itu cukup sebagai bahan pembelajaran. Bagi Cahyo, setiap orang pasti ada kesalahan.

“Bukan bapak itu saja, banyak pak. Biasa saja, saya diamkan. Ya lebih baik buat pembelajaran, karena setiap orang pasti punya kesalahan,” imbuhnya.

Siswa SMK N 1 Rembang ini memohon kepada masyarakat yang sudah terlanjur memosting tayangan oknum berseragam ASN menirukan gaya bicaranya, untuk dihapus dan jangan memperpanjang masalah tersebut.

Pihak oknum pelaku juga sudah membuat video klarifikasi, sekaligus menyampaikan permohonan maaf.

“Saya minta tolong banget, mohon dihapus ya, demi kenyamanan saya dan demi bapaknya juga. Masalah ini jangan diperpanjang ya, sudah selesai,” terangnya.

Terduga Pelaku Bukan Guru

Cahyo sejak usia 2 tahun diasuh dan tinggal bersama neneknya, Gini, karena orang tua berpisah, kemudian sudah berkeluarga lagi di luar daerah.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Cahyo “si anak tangguh” biasa berjualan kebab dan air minum pada hari Sabtu dan Minggu di sekitar Alun-Alun Rembang.

Gini mengaku tetap ada rasa tidak nyaman, ketika cucunya mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari orang lain.

“Nggeh pripun malih, mugi-mugi boten wonten malih (Ya mau bagaimana lagi, semoga tidak ada lagi/kejadian pembullyan_Red),” kata Gini.

Sementara itu, Kepala SMK N 1 Rembang, Widodo melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Avendi Bambang Yulianto menjelaskan terduga pelaku sudah meminta maaf kepada siswanya maupun pihak sekolah, melalui sebuah video yang dikirim.

“Anak didik kami sudah sejak awal memaafkan, ini merupakan sikap luar biasa, di luar dugaan kami. Apa yang dilakukan memberikan pembelajaran kepada kita, meski dia masih anak di bawah umur,” terangnya.

Ia menegaskan terduga pelaku bukanlah seorang guru, tetapi oknum ASN di Morowali, Sulawesi Tengah.

“Bukan guru dan juga bukan bagian dari kami, tapi dari luar Jawa. Semenjak kasus itu ramai di media sosial, yang bersangkutan intens komunikasi dengan kami, meminta maaf,” tandas Avendi.

Avendi berharap kejadian ini memberikan hikmah, semakin menyadarkan masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.

“Apalagi sampai membully anak disabilitas, semoga kedepan tidak terulang lagi. Kami dari sekolah sudah mendampingi korban, mengedukasi, supaya tidak merasa jatuh atau rendah diri,” pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.