
Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyampaikan festival thong-thong lek di Alun-Alun Rembang, Minggu malam (07/04) untuk mengembalikan orisinalitasnya.
Yang ia maksudkan orisinal, tanpa adanya kombinasi dengan alat musik modern.
“Kita coba menghargai masyarakat ingin tahu kayak apa orisinalitas thong-thong lek. Malam ini membuktikan tanpa alat musik modern, ternyata juga indah sekali,” tandasnya.
Abdul Hafidz menambahkan sejak dirinya menjadi Wakil Bupati sampai sekarang, total sudah 11 kali thong-thong lek, 9 kali diantaranya berjalan (keliling) menggunakan alat musik modern.
Bupati berharap tidak terjadi pro kontra berkepanjangan, seolah-olah Pemkab ingin menghilangkan tradisi.
“Tradisi yang menjadi milik Rembang, tetap kita lestarikan dengan berbagai model dan cara. Tidak menutup kemungkinkan tahun depan akan kita kolaborasikan dengan alat musik modern,” kata Bupati.
Dalam tayangan streaming thong-thong lek di youtube Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Rembang, warga tidak terlalu mempermasalahkan orisinalitas alat musik.
Namun dari sekian banyak komentar yang muncul, mayoritas mendesak supaya Pemkab Rembang mengembalikan tradisi thong-thong lek keliling atau tidak terpusat di satu titik.
“Kembali ke thong-thong lek keliling, bukan konser,” ujar salah satu akun.
“Orisinalitas thong-thong lek ya keliling,” timpal akun lainnya.
Setelah melalui penilaian tim dewan juri festival thong-thong lek, juara 1 diraih Cah Mboleyong dari Desa Sudo Kecamatan Sulang (nilai 2.400), juara 2 Mbah Joget dari Lasem (2.350), juara 3 Gondorase dari Desa Banyudono Kecamatan Kaliori (2.250).
Kemudian juara Harapan 1 New Arkasa dari Desa Karangsekar Kecamatan Kaliori (2.150), juara Harapan 2 Repandec dari Desa Pandean Rembang (1.900) dan Harapan 3 Rejeng dari Kelurahan Pacar Rembang (1.850). (Musyafa Musa).

