
Rembang – Pinjaman atau pembiayaan yang digelontorkan oleh BMT Harum Rembang kepada masyarakat, diketahui banyak yang macet.
Hal itu juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi keuangan BMT Harum, di samping faktor penarikan simpanan anggota secara bersamaan.
Kuasa hukum BMT Harum, Achmad Nur Qodin menjelaskan dari hasil investigasi, pinjaman atau pembiayaan yang macet, persentasenya antara 50 – 70 %.
“Jadi uang simpanan anggota tidak mengendap di brankas, tapi harus disalurkan dalam bentuk pinjaman atau pembiayaan. Pinjaman ini ada yang lancar, kurang lancar dan macet. Tentunya ini mempengaruhi cash flow,” tuturnya.
Pinjaman yang bermasalah, semua menggunakan jaminan atau agunan, rata-rata berupa sertifikat tanah.
Tapi untuk melakukan eksekusi agunan tersebut butuh waktu, minimal paling cepat 3 bulan.
“Melalui proses Pengadilan Agama dulu, baru kemudian dilelang. Dalam hal ini butuh waktu, tidak bisa seketika langsung mendapatkan uang,” imbuhnya.
Pengacara asli Desa Pamotan Kecamatan Pamotan yang bermukim di Kudus ini menambahkan BMT Harum sudah menyusun langkah-langkah penanganan.
Jangka pendek tahun 2024 ini harus menjual aset secepatnya dan fokus menangani pinjaman bermasalah.
“Ini skala prioritas pertama kami, supaya anggota bisa memperoleh uang simpanannya secara bertahap,” beber Nur Qodin.
Jangka menengah di tahun 2025, memproyeksikan aset-aset skala besar untuk melanjutkan pembayaran uang anggota secara bertahap.
“Jangka menengah mulai tahun 2025,” ucapnya.
Sedangkan langkah jangka panjang ada 2 agenda, yakni mengurangi kantor cabang untuk menekan biaya atau efisiensi pengeluaran.
Selain itu, pengurangan nominal bagi hasil, setelah melalui komunikasi dengan para anggota.
“Jadi bagi hasil tidak bisa seperti normalnya, tapi hal ini harus dikomunikasikan dengan anggota dulu, semua demi pemulihan dan pengelolaan jangka panjang,” pungkas Nur Qodin.
Sebelumnya, anggota Koperasi BMT Harum kesulitan mencairkan uang simpanan, saat gelombang kedatangan mereka cukup masif.
Hal itu turut dipengaruhi adanya kabar sejumlah BMT lain yang gulung tikar, sehingga sama-sama memicu kepanikan. (Musyafa Musa).

