Dampak Cuaca Buruk Pesisir Rembang, Kapal Jenis Ini Yang Masih Melaut
Suasana pesisir pantai utara Desa Manggar Kecamatan Sluke, Selasa (13/01). Perahu nelayan sementara ini berlindung ke lokasi yang lebih aman.
Suasana pesisir pantai utara Desa Manggar Kecamatan Sluke, Selasa (13/01). Perahu nelayan sementara ini berlindung ke lokasi yang lebih aman.

Rembang – Cuaca buruk dengan intensitas hujan tinggi di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang dalam tiga hari terakhir ini, mengakibatkan sebagian besar nelayan berhenti melaut.

Kadromi, tokoh nelayan di Desa Tasikagung Rembang mengatakan kalau kapal kecil harian, kapal Sarang – Tayu, maupun kapal dengan muatan di bawah 50 ton, mayoritas berhenti melaut. Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama.

Sedangkan kapal-kapal besar, dengan muatan ikan di atas 50 ton, masih tetap beroperasi di perairan Selat Makasar.

“Kalau kapal-kapal kecil, ya berhenti, yang besar-besar masih melaut, masih bisa bekerja,” terangnya, Selasa 13 Januari 2026.

Kadromi menambahkan kapal besar ibaratnya tidak mengenal kondisi ombak. Setelah pulang dari Selat Makasar, hasil melaut dibongkar di tempat pelelangan ikan (TPI).

Kondisi semacam ini, biasanya harga ikan mengalami kenaikan, dibandingkan hari-hari biasa.

“Kalau nelayan kita kan penghasil ikan basah. Nelayan datang, langsung bongkar. Cuman karena pasokan berkurang lumayan banyak, harga ikan tetap naik di pasaran,” beber Kadromi.

Sementara itu, nelayan pencari rajungan di Kecamatan Sluke, sepanjang hari Selasa, total berhenti melaut.

Saat ini harga rajungan pada kisaran angka Rp 105 Ribu per Kilo Gram.

“Nggak ada yang melaut mas, berhenti semua, mesin-mesin kapal dicopoti dan dibawa pulang ke rumah. Hujan sama ombak soalnya. Kalau harga (rajungan), Rp 105 Ribu per Kg, belum ada perubahan ini,” ujar pengepul rajungan di Desa Manggar Kecamatan Sluke, Charis. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan