Putro Wayah Lasem Ungkap Alasan, Kenapa Berpakaian Hitam-Hitam (Telusuri Sejarah Agar Tidak Dibelokkan)
Putro Wayah Lasem dengan ciri khas pakaian hitam-hitam.
Pegiat sejarah yang tergabung dalam Putro Wayah Lasem dengan ciri khas pakaian hitam-hitam.

Lasem – Komunitas pegiat sejarah yang tergabung dalam Putro Wayah Lasem terus berupaya menelusuri dan mengembalikan cerita sejarah Lasem, supaya tidak dibelokkan oleh pihak-pihak tertentu.

Pegiat sejarah Putro Wayah Lasem, Samuel Subroto menuturkan sejarah-sejarah yang sempat tertutup, perlu dibuka kembali.

“Kita berusaha memunculkan kembali, sesuai jalur yang sebenarnya,” kata Subroto.

Pria warga Desa Langkir Kecamatan Pancur ini menambahkan Putro Wayah Lasem berniat membentuk suatu yayasan dan berbadan hukum, sehingga langkah gerak kedepan menjadi lebih kuat.

“Soalnya kalau kita tidak melakukan kegiatan-kegiatan semacam ini, nanti cerita sejarah Lasem akan semakin tertutup,” imbuh Subroto.

Ia juga menyebut bahwa para pegiat dalam Putro Wayah Lasem tidak hanya warga Kecamatan Lasem, tetapi juga banyak yang datang dari luar daerah, bahkan luar Pulau Jawa.

“Pada saat kirab pataka di Punden Tapaan Warugunung Kecamatan Pancur malam 1 Suro lalu, yang datang ada dari Jawa Timur dan Lampung. Tidak menutup kemungkinan dari segala arah, karena Lasem ini merupakan punjer (pusat),” bebernya.

Subroto menambahkan dari sisi pakaian yang dikenakan, Putro Wayah Lasem selalu menampilkan ciri khas pakaian Kanung (sangkaning gunung_Red), yakni ikat kepala, atasan dan bawahan serba hitam.

Pakaian tersebut merupakan ciri khas dari leluhur zaman dulu dan rutin dikenakan Putro Wayah Lasem saat berlangsung event-event spesial.

“Ini merupakan pakaian Kanung, sangkaning gunung. Kita tunjukkan identitas Putro Wayah Lasem, misal ketika karnaval atau moment tertentu. Nuwun sewu mungkin ada yang tanya kok tidak blangkon, kalau blangkon itu dari keraton Jogja dan Solo. Kami punya ciri khas tersendiri,” ungkap Subroto.

Sedangkan salah satu referensi yang menjadi pegangan adalah buku Carita Sejarah Lasem (CSL).

Dalam buku tersebut mengisahkan era Dewi Indu yang menjadi ratu di Lasem pada tahun Saka 1273, kemudian sejarah agama Hindu dan Budha yang mulai banyak bergeser ke agama Rasul (Islam_Red), hingga kehidupan masyarakat kala itu. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.