Kenong Telu Dan Ikan Gabus, Menggugah Riwayat Antara Sudo Dengan Rowo Sambongan
Suasana kirab Kenong Telu, tampak replika maskot ikan gabus berada di barisan terdepan, Kamis (10 Juli 2025).
Suasana kirab Kenong Telu, tampak replika maskot ikan gabus berada di barisan terdepan, Kamis (10 Juli 2025).

Sulang – Masyarakat Desa Sudo Kecamatan Sulang, Kamis siang (10 Juli 2025) menggelar kirab kenong telu bertajuk “srawung sedulur tunggal banyu”.

Pranghono, pegiat budaya di Desa Sudo membeberkan filosofi kenong telu.

Kenong adalah alat gamelan Jawa, sedangkan telu menjadi perlambang sang pencipta, manusia dan alam yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Menurutnya, dalam menjalani kehidupan, masyarakat harus senantiasa menjaga keseimbangan alam.

“Pesan moralnya itu. Jadi ketika keseimbangan alam terjaga, maka manfaanya akan kembali kepada kita semua, untuk menuju kebahagiaan dan kemenangan,” ungkapnya.

Dalam kirab tersebut, ada maskot berupa ikan gabus atau ikan kutuk. Pranghono menyebut terinspirasi dari cerita turun temurun, dahulu kala Desa Sudo pernah mengalami bencana kekeringan parah.

Ikan gabus di sungai Sudo melakukan migrasi atau perpindahan besar-besaran ke Rowo Sambongan (belakang Polsek Sulang)  di Desa Jatimudo Kecamatan Sulang. Artinya, antara Embung Sudo dan Embung Rowo Sambongan memiliki ikatan, sehingga pihaknya memilih pesan “srawung sedulur tunggal banyu”.

“Ini untuk catatan buat kita semua, bagaimana sumber daya air ini tetap terjaga. Manfaatnya nggak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga beragam habitat, termasuk ikan. Sampai sekarang Embung Sudo menjadi penghasil terbesar ikan gabus di Kabupaten Rembang,” imbuh Pranghono.

Sesampainya tiba di Embung Rowo Sambongan, peserta kirab melepaskan puluhan ikan gabus dan berebut aneka macam jajanan. Tampak dalang Ki Sigid Ariyanto beserta keluarga menyambut kedatangan mereka.

Pilar Kekuatan

Camat Sulang, Arief Dwi Sulistya mengakui gairah masyarakat Desa Sudo untuk melestarikan budaya Jawa dan tradisi turun temurun, terasa lebih dominan, ketimbang kampung-kampung lainnya.

“Termasuk desa yang sangat peduli terhadap seni dan budaya. Desa Sudo paling sering mengadakan event, di luar sedekah bumi,” kata Arief.

Arief menyarankan kedepan muncul ide-ide menarik untuk menyedot kedatangan wisatawan, sehingga perekonomian masyarakat ikut terangkat.

“Perlu dipikirkan ide yang out off the box. Bagaimana wisatawan dari luar mau ke sini. Jadi tak hanya budaya berkembang, tapi ada dampak ikutan terhadap ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Sulistyowati, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Rembang menilai bahwa kekompakan masyarakat mengemas kearifan lokal dalam bentuk festival budaya, merupakan salah satu pilar kekuatan membangun desa.

“Semoga kedepan bisa terus dikembangkan. Saya yakin masyarakat Sudo yang disupport pemerintah desa nya, mampu melakukan hal itu. Kita dari Pemkab Rembang akan selalu mendukung upaya-upaya melestarikan tradisi budaya,” tandasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp 4 miliar.