
Sluke – Istiqomah, ibu berusia 60 tahun ini berulang kali mengusap air matanya.
Wanita warga Desa Jurangjero Kecamatan Sluke Kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersebut menangis haru, karena sama sekali tidak pernah mengira, puteranya Akirul Setiawan diterima menjadi anggota TNI Angkatan Darat berpangkat Prada.
Akirul sudah ditinggal sang bapak berpulang selamanya, sejak kelas 3 SD. Ia sendirian membesarkan anak-anaknya, dengan penuh kesederhanaan.
Saat ingin mendaftar TNI, Istiqomah semula agak ragu, karena kondisi ekonominya pas-pasan. Do’a terus dipanjatkan, sampai kemudian ada pengumuman Akirul Setiawan yang baru berusia 19 tahun, lolos seleksi.
“Saya ya seneng, seperti mimpi, nggak percaya pak. Blas boten ngiro, tapi menawi sampun rezekinya anak kulo,” ujarnya.
Istiqomah bersyukur, karena anaknya menjadi TNI tanpa menyogok.
“Gratis pak, boten ngangge duwit,” imbuh Istiqomah.
Prada Akirul Setiawan tidak sendiri. Kebetulan di Desa Jurangjero Kecamatan Sluke, ada 5 orang yang langsung diterima menjadi anggota TNI, dalam satu gelombang pendaftaran.
Kalau ditambah 1 orang lagi dari Desa Pangkalan, Kecamatan Sluke menyumbang 6 personil yang diterima dan ini termasuk rekor pencapaian di Kabupaten Rembang.
Apalagi semua gratis, tanpa bantuan orang dalam maupun uang sogokan yang selama ini menjadi kekhawatiran masyarakat.
Tantangan Terberat
Orang tua lain di Desa Jurangjero, Wasmi mengaku hanya keluar biaya untuk ongkos transport, selama anaknya mengurus berkas persyaratan dan mengikuti proses seleksi.
“Buat wira wiri saja pak. Kalau mbayar biar lolos seleksi, nggak ada,” tandasnya.
Sang anak, Prada Muhammad Diki Waslimatun Niam lolos, meski Wasmi sehari-hari hanya bekerja sebagai penjual kerupuk keliling dan tukang sembelih ternak.
Wasmi menyarankan masyarakat tidak perlu khawatir biaya, justru yang penting menyiapkan fisik dan mental anak-anak.
“Nggak usah takut, kalau nggak punya banyak uang. Suara di luar sana-sana, katanya mbayar, saya sudah membuktikan sendiri, nggak seperti itu,” imbuh Wasmi.
Sementara itu Prada Muhammad Diki mengungkapkan pengalamannya saat seleksi, tantangan terberat adalah tes psikologis, karena harus benar-benar konsentrasi. Ia baru pertama kali mendaftar TNI, ternyata langsung lolos.
“Pesan saya buat adik-adik, kurangi malasnya, jangan mudah menyerah, latihan terus. Waktu pengumuman dan pemasangan baret, pengin nangis, tapi saya tahan, wong sudah jadi tentara kok,” ungkapnya.
Saat saya menemui 5 orang anggota TNI dari Desa Jurangjero dan 1 orang dari Desa Pangkalan Kecamatan Sluke, hari Selasa 27 Mei 2025, kebetulan mereka sedang mendapatkan cuti pulang ke rumah selama 2 Minggu, setelah selesai pendidikan di Gombong Kebumen.
Nantinya tinggal menunggu informasi dari kesatuan, di mana penempatan lokasi tugas.
Mereka juga turut mengucapkan terima kasih atas saran bimbingan dari anggota Babinsa, Koramil Sluke dan Kodim Rembang, sehingga bisa masuk TNI, membanggakan orang tua, sekaligus mengabdikan jiwa raga untuk bangsa dan negara. (Musyafa Musa).

