Dua Masalah Petani Tembakau Saat Ini, Salah Satunya Harus Pakai Jarum
Lahan tembakau di Kabupaten Rembang.
Lahan tembakau di Kabupaten Rembang.

Rembang – Dua masalah utama dihadapi para petani tembakau di Kabupaten Rembang, ketika cuaca panas seperti sekarang.

Marjuki, seorang petani tembakau di Desa Tlogotunggal Kecamatan Sumber mengungkapkan tantangan pertama adalah pengairan tanaman.

Kondisi saat ini curah hujan sangat minim, sehingga petani harus membeli air rata-rata Rp 150 Ribu per rit.

Padahal kalau air kurang, perkembangan tembakau tidak akan bagus. Misalnya, tanaman kerdil dan jumlah daunnya sedikit.

“Kalau tidak ada hujan, tampilan tanaman kurang subur. Daunnya kecil, tinggi tanaman kurang, ujung-ujungnya hasil panen juga kurang mas. Petani tetap beli, yang susah kalau lahan jauh dari akses jalan, truk air nggak bisa masuk,” ungkapnya, Senin (08 Juli 2024).

Selain masalah air, petani tembakau yang memulai tanam pada bulan Juni, kebanyakan harus lebih kerja keras lagi, menyikapi banyaknya hama ulat.

Posisi ulat yang berada di dalam batang daun, sering kali sulit dibasmi dengan penyemprotan obat.

“Basminya susah, disemprot nggak bisa. Batangnya harus ditusuk jarum, butuh biaya tambahan lumayan. Kalau musim panas, hama ulat batang ngeri. Rata-rata yang kena, tanaman umur di atas 20 hari,” imbuh Marjuki.

Data di Dinas Pertanian Dan Pangan, luas tanaman tembakau tahun 2024 di Kabupaten Rembang antara 6 – 8 ribu hektar.

Untuk non kemitraan, sejumlah petani bahkan sudah mulai panen. Sedangkan kemitraan dengan PT Sadana Arif Nusa, sejauh ini belum ada jadwal penyetoran hasil panen ke gudang. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan