Saat Perang Butuh Waktu 1 Bulan, Kisah Sambel Pecel Dikirim Ke Yaman
Abdullah Hamid menunjukkan sambel pecel Lasem yang akan dikirim ke Yaman. (Foto atas) Santri Indonesia di Yaman menikmati kuliner, memakai sambel pecel Lasem.
Abdullah Hamid menunjukkan sambel pecel Lasem yang akan dikirim ke Yaman. (Foto atas) Santri Indonesia di Yaman menikmati kuliner, memakai sambel pecel Lasem.

Lasem – Ada kisah menarik dari sambel pecel asal Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang diam-diam ternyata bisa menembus negara Yaman, sebuah negara Timur Tengah yang berdekatan dengan Oman dan Arab Saudi.

Berawal dari Abdullah Hamid, warga Desa Dorokandang Kecamatan Lasem – Rembang yang kebetulan mempunyai putera, bernama Muhammad Royhan (21 tahun) sedang mondok sekaligus kuliah di Universitas Al-Wasathiyah Yaman. Royhan masuk Al-Wasathiyah, setelah melewati ketatnya rangkaian seleksi.

Siapa sangka, dari sekian banyak kuliner khas Indonesia yang paling dirindukan selama berada di Yaman adalah sambel pecel.

Abdullah Hamid mengaku beberapa kali mengirimkan sambel pecel ke Yaman. Termasuk ketika Yaman dilanda peperangan, paket sambel pecel pun berhasil diterima dalam kondisi utuh oleh sang anak. Meski butuh waktu selama 1 bulan baru sampai tujuan.

Abdullah menceritakan saat mendapatkan permintaan sambel pecel dari Royhan, dirinya sempat terkejut.

“Lhah kok sambel pecel, nggak mengira saya. Selain sambel pecel, biasanya juga minta kiriman peci dan sarung. Meski berada di Timur Tengah, namun nggak lupa dengan budaya khas Indonesia, “ tuturnya.

Yang terbaru ia mengirimkan 2 kilo gram sambel pecel pada bulan Januari 2023. Harga sambel pecel Rp 40 Ribu per kilo gram, tidak sebanding dengan biaya pengiriman paket yang mencapai Rp 190 Ribu per kilo gram.

Biasanya paket dikumpulkan terlebih dahulu oleh seorang penghubung yang berada di Cirebon, Jawa Barat. Setelah itu, penghubung yang sudah mempunyai jaringan dengan Yaman, mengirimkan barang-barang ke sana.

“Karena paham betul lokasi Yaman dan melibatkan orang lokal, sehingga selama ini pengiriman barang tidak ada masalah, “ imbuh Abdullah.

Begitu sambel pecel sampai, informasi yang diterima langsung diserbu para santri, untuk diolah menjadi beragam kuliner.

“Kalau mau beli, kan nggak ada di Yaman. Jadi terasa surprise, sangat berharga. Waktu buat sate, mereka juga pakai sambel pecel, “ ucapnya.

Bagi Abdullah menguliahkan anak di Yaman, terselip harapan khusus. Selain menambah pengalaman internasional, menurutnya Yaman sebagai negara asal-usul Wali Songo, dikenal banyak memiliki ulama yang ikhlas dan penuh tawadhlu. Ia ingin anaknya bisa mewarisi sikap-sikap tersebut.

“Tak muluk-muluk harus jadi apa, jadi apa. Jadi orang baik saja. Yaman saya kira tempat yang tepat, “ pungkas Abdullah. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *