Jalan Tol Di Kabupaten Rembang, Coba Tebak Lewat Pinggir Laut Atau Tidak ?
Pengguna mobil pribadi melintas di Jalan Rembang – Blora. Jalan tol yang melintasi Kabupaten Rembang, mengambil jalur sebelah selatan Kota Rembang.
Pengguna mobil pribadi melintas di Jalan Rembang – Blora. Jalan tol yang melintasi Kabupaten Rembang, mengambil jalur sebelah selatan Kota Rembang.

Rembang – Jalan tol Semarang – Tuban yang melintasi wilayah Kabupaten Rembang dipastikan tidak melintasi pinggir laut pesisir pantai utara (Pantura) Jawa. Tetapi justru memilih jalur Rembang bagian selatan atau di sebelah selatan area yang kelak akan dibangun jalan lingkar Rembang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Rembang, Sugiharto ketika dikonfirmasi membenarkan jalan tol yang ada di Kabupaten Rembang tidak memanfaatkan pinggir laut. Tapi alurnya berada di sebelah selatan Kota Rembang.

“Lebih selatan lagi dibandingkan dengan jalur lingkar, “ ungkap Sugiharto, Minggu (13/09), tanpa memperinci nama kecamatan.

Ia memastikan pembangunan jalan tol harus sesuai dengan dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW). Pada Peraturan Daerah (Perda) No. 04 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Rembang, sebenarnya sudah memuat gambaran wilayah yang bisa dipakai untuk akses jalan tol. Namun dalam revisi Perda RTRW yang masih terus berproses saat ini, titik-titiknya diperjelas lagi.

“Khusus untuk jalan tol, Perda No. 04 tahun 2011 sudah bisa dipakai untuk pengurusan izin, karena memang sudah ada. Kalau kebetulan saat ini Perda tersebut direvisi, data lama tinggal memperinci lagi. Nggak ada perubahan kok, masih sama, “ tandasnya.

Lalu apa plus minus jalan tol memilih wilayah selatan, ketimbang di pinggir pantai utara Rembang ? Sugiharto mengakui perencanaan dari pemerintah pusat lebih matang. Ia beralasan kendaraan yang lewat jalur Pantura Semarang ke timur, didominasi angkutan barang, sedangkan jumlah kendaraan pribadi lebih sedikit.

Karena jalan tol dibangun oleh investor, nilai investasi yang digelontorkan akan lama kembalinya, jika menggunakan jalur utara. Tapi di sisi lain, jika jalan tol membentang di pinggir laut, bisa berfungsi sebagai penahan gelombang, dan memiliki panorama keindahan yang mempesona.

“View lautnya bagus itu, tapi biaya konstruksi pembangunan menjadi mahal. Sedangkan mobil pribadi nggak begitu banyak, apalagi Kudus ke timur sampai Rembang. Investor keluar uang, kan pengin cepat kembali, “ tuturnya.

Manakala dibangun di jalur selatan Rembang, menurutnya biaya pembebasan lahan dan konstruksi, tidak semahal kalau berada di pinggir laut. Selain itu, lalu lintas harian (LHR) mobil pribadi jauh lebih ramai.

“Itu nanti kan nyambung dengan tol-tol kota besar, seperti Solo, Jogja, Madiun. Rembang nyambungnya sampai Tuban. Saya lihat dari Jawa Timur juga sudah ada RTRW nya. Jadi nanti pengguna jalan tol punya banyak pilihan, sehingga tidak semrawut, “ terang pejabat warga Desa Kabongan Kidul Rembang ini.

Lalu kapan pembebasan lahan untuk jalan tol Kudus – Pati – Rembang – Tuban, Sugiharto menegaskan hal itu kewenangan pemerintah pusat.

“Informasi yang kami terima, detail desainnya (Ded-Red) sudah jadi. Bahkan sudah dipathok-pathok. Untuk pelaksanaan pembebasan lahan, akan terlihat dari situ, “ pungkasnya. (Musyafa Musa).

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *