
Rembang – Sekira 100 an Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Rembang, kekurangan jumlah murid pada tahun ajaran baru 2026/2027 ini.
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kabupaten Rembang, Kapti Prasetiyo Aji menjelaskan jumlah siswa dalam 1 kelas (rombongan belajar_Red), idealnya 28 anak.
Tahun ajaran baru ini, tercatat ada 100 an sekolah yang belum memenuhi jumlah tersebut.
Sedangkan kelas yang jumlah muridnya kurang dari 10 anak, diperkirakan ada 20 an SD. Proses pendataan sampai Selasa sore (14 Juli 2026) masih terus berlangsung, untuk mengetahui angka pastinya.
“Kalau dalam konteks, 1 kelas atau Rombelnya kurang dari 28 anak, ya banyak sekali. Tapi yang satu kelas, kurang dari 10 anak, data kasar kira-kira 20 an sekolah,” ujarnya.
Kapti menambahkan kebijakan dari pusat, selama data pokok pendidikan (Dapodik) siswa belum ditutup, maka calon siswa baru tetap bisa mendaftar ke sekolah.
Meskipun pada pekan pertama ini sudah berlangsung masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
“Untuk mengantisipasi anak-anak pindahan, termasuk dari luar Jawa. Kalau cut off Dapodik semula kan tanggal 30 Juni 2026. Tapi ini ada batas toleransi sampai Minggu pertama MPLS, masih diakomodir (tetap diterima kalau ada pendaftar),” imbuh Kapti.
Ditanya tentang kemungkinan regrouping atau penggabungan bagi sekolah-sekolah SD N yang kekurangan jumlah murid, menurutnya memang sempat menguat.
Ia pribadi setuju ada penggabungan. Begitu pula Kepala Daerah juga sudah memberikan lampu hijau.
Namun atas pertimbangan kondisi geografis, jarak antara rumah warga dengan sekolah akan semakin jauh ketika digabung, membuat wacana regrouping masih belum terealisasi sampai tahun 2026 ini.
“Semisal di SD N 3 Sendangcoyo, Kecamatan Lasem, posisi di pucuk gunung, nggak dapat murid sama sekali tahun ini. Masih dalam tahap pertimbangan (regrouping). Tapi pak Bupati sendiri sudah kasih lampu hijau,” tandasnya.
Umumnya, sekolah-sekolah yang sangat kekurangan murid, terjadi pada lokasi di daerah pegunungan atau desa-desa kecil, dengan anak usia sekolah yang jumlahnya semakin menurun.
Disamping ada faktor lain, orang tua siswa lebih senang menyekolahkan anaknya ke sekolah di luar desa, karena dianggap lebih berkualitas. (Musyafa Musa).

