
Rembang – Ada momen menarik, saat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rembang menggelar Kelas Jurnalistik di SMA N 2 Rembang, hari Kamis (02 Juli 2026).
Saat itu, Ketua PWI Kabupaten Rembang, Musyafa mencoba survei kecil-kecilan, terhadap trend perubahan akses informasi masyarakat, terutama di kalangan Gen-Z.
Puluhan siswa yang menjadi peserta Kelas Jurnalistik, ditanya tentang penggunaan media arus utama (mainstream) dan media sosial.
Hasilnya, terpantau hanya 2-3 anak yang masih mengakses media arus utama, seperti TV dan radio. Sedangkan media sosial terbanyak yang diakses oleh semua anak setiap hari adalah Instagram dan Tiktok.
Musyafa mengungkapkan perubahan semacam ini adalah pergeseran wajar, seiring perkembangan waktu.
Makanya sekarang media arus utama juga mengelola media sosial, untuk menyelaraskan dengan minat masyarakat.
Ia menyebut PWI punya kepentingan masuk ke sekolah-sekolah, menyebarkan semangat berjurnalistik, agar pengembangan content di media sosial memiliki basis ilmu jurnalistik.
“Artinya ini bisa saling melengkapi. Semangat literasi berbasis jurnalistik, dikaitkan dengan trend media sosial. Setidaknya, content-content media sosial dapat lebih banyak dipenuhi materi yang bermanfaat, memiliki pesan positif untuk kemajuan kedepan dan bersama-sama menangkal kabar hoax,” terangnya.
Meski masih menikmati rangkaian libur panjang sekolah, namun puluhan siswa SMA N 2 Rembang tetap antusias mengikuti pelatihan yang diisi dua pemateri, Sarman Wibowo dari Semarang TV dan Diantoro dari Radio R2B.
Aulia Ramadhani, Ketua OSIS SMA N 2 Rembang mengatakan pelatihan kali ini sebagai sarana menyegarkan kembali ingatan tentang membuat berita dan produksi video, dengan kisi-kisi yang lebih mendalam.
“Kita ibaratnya sebagai penggerak melalui media sosial, bagaimana kita bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ada bekal ilmu jurnalistik, ada ruang yang bisa dipakai yaitu Medsos,” ungkapnya.
Siswa lain, Izza Zafa mengaku memiliki semua akun media sosial.
Baginya, yang paling mudah Tiktok. Kalau yang paling sulit mencari follower atau pengikut di Youtube.
“Di pelatihan tadi, menggambarkan kira-kira platform apa yang paling menarik dikembangkan. Minimal untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Syukur bisa menghasilkan cuan,” kata Izza.
Sementara itu, guru pendamping dalam kegiatan Kelas Jurnalistik, Eko Hadi Wibowo menjelaskan dari sisi ilmu dasar, siswa umumnya telah mendapatkan pembekalan di sekolah, terutama pada mata Pelajaran Bahasa Indonesia.
“Namun akan lebih mantap lagi, ditambah dengan suntikan ilmu dari para praktisi secara langsung. Misal tentang komposisi, kemasan hingga peluang-peluang yang bisa digarap oleh siswa,” tandasnya. (Musyafa Musa).

